Ads Right Header

Hoaks: Virus Setelah Covid-19 (?)

Pixabay.com


Pandemi Covid-19 selama beberapa bulan terakhir ini semakin merebak secara masif di level global. World Health Organization (WHO) menyebut pandemi Covid-19 ini sebagai pandemi global. Ia mampu menerobos setiap pelosok belahan dunia tanpa mengenal apa dan siapa yang dituju. Berbagai Negara pun telah mengerahkan pelbagai kekuatan untuk menghambat dan melumpuhkan laju penyebarannya yang begitu cepat.,

Ekses domino dari hal ini ialah bahwa virus ini telah membatasi segala aktivitas manusia. Ia sungguh menjadi ancaman serius manakala ada yang masih beraktivitas di luar rumah. Alhasil, kita dapat melihat bahwa manusia menjadi teralienasi dengan manusia lain tanpa bisa berkontak secara face to face. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup di luar rumah pun dibatasi.

Memang secara historis bahwa virus yang mengglobal ini bukan menjadi virus pertama yang penyebarannya begitu masif di pelbagai belahan dunia.

Berdasarkan catatan historis, bahwa pandemi pernah terjadi pada tahun 1918, yaitu pandemi flu dari Spanyol. Yang terinfeksi  sekitar 27 persen atau 500 juta orang  dengan angka kematian sekitar 40  hingga 50 juta korban. Setelahnya adalah pandemi H1N1 pada 2009 yang menginfeksi 700 juta hingga 1,4 milyar manusia atau sekitar 11-12 persen populasi dunia (Pos Kupang, 16/3).

Secara rasional, walaupun proses penyebaran kedua virus yang pernah terjadi ini agak lamban, tetapi korban yang meninggal dunia mampu mencapai puluhan ribu orang. Apalagi dengan virus Corona yang penyebarannya begitu cepat. Hemat penulis kalau tidak secara cepat, cermat dan tepat dalam mengupayakan opsi solutif-preventif, bukan tidak mungkin dalam waktu yang singkat bisa mencapai puluhan ribu jiwa yang meninggal dunia.

Dalam menekan laju kuantitas korban, kita membutuhkan opsi solutif-preventif. Berkaitan dengan ini, berbagai negara telah mengupayakan kebijakan untuk mencegah laju pandemi Covid-19 yang semakin meningkat di negara mereka.

Salah satu negara yang saat ini masih berusaha untuk menangkal penyebaran virus corona adalah Indonesia. Berdasarkan informasi yang dilansir dari media massa, sampai saat ini tingkat penyebarannya semakin meningkat drastis.

Namun ironisnya, virus yang terjadi di negara Indonesia bukan hanya berafiliasi dengan pandemi Covid-19. Tetapi yang terjadi justru virus baru yang secara sengaja diciptakan dan dilakukan oleh segelintir oknum tertentu. Virus baru yang akhir-akhir ini gencar diperbincangkan diruang publik selain virus corona adalah hoaks atau berita bohong.

Pada hakikatnya hoaks atau berita bohong adalah virus berita yang dipublikasikan oleh segelintir orang, baik melalui media massa maupun secara langsung dengan latar belakang tidak sesuai dengan realitas yang terjadi (baca: bohong).

Para penyebar hoaks melakukan aksinya dengan menjadikan virus corona sebagai instrumen dalam mengeksploitasi situasi masyarakat yang carut-marut. Konsekuensi logis dari berita hoaks yang mereka publikasikan itu ialah masyarakat semakin panik.

Kepanikan masyarakat juga tentu menambah problema baru bagi pemerintah Indonesia dalam menanggapi sikap panik masyarakat yang berlebihan.

Akhirnya bukan hanya pandemi Covid-19 yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Akan tetapi virus hoaks pun turut menggerogoti masyarakat. Ia kemudian bermetamorfosis menjadi kepanikan masyarakat itu sendiri.

Melihat realitas ini, dapat diklaim bahwa masyarakat sejatinya panik, bukan semata-mata karena merebaknya virus corona yang kian hari semakin ekspensif, tetapi justru yang lebih dominan yakni rujukan berita hoaks yang dipublikasikan para buzzer (baca: penyebar hoaks) melalui media.

Hemat penulis, aktus para buzzer ini pararel dengan jargon yang pernah dilontarkan oleh filsuf Yunani, Thomas Hobbes tentang hakikat eksistensi manusia sebagai Homo Homini Lupus -manusia adalah serigala bagi sesamanya - (Pandor, 2010: 17). Pada aras ini, manusia bukan lagi menjadi sahabat bagi sesamanya, tetapi serentak menjadi serigala yang siap menerkam dan merenggut nyawa sesamanya dengan menyebarkan virus hoaks.

Di tengah situasi publik yang krusial dengan merebaknya virus corona, maka peran stakeholders terkait mesti lebih tegas dalam merespon virus yang secara artifisial dilakukan oleh para buzzer. Tujuannya agar tidak menambah beban pemerintah dalam menangkal virus corona yang terjadi.

Selain itu, yang paling urgen di sini ialah peran masyarakat sendiri agar tidak mudah percaya dengan informasi yang dipublikasikan media.

Akhirnya, dalam melampaui virus hoaks ini, masyarakat diminta untuk membuat verifikasi terlebih dahulu atas berita yang dimuat media agar tidak terjerambab pada kubangan kebohongan para penyebar hoaks.

Lantas, kapan kita berhenti menjadi korban kebohongan?


Okan Widodo,
Anggota Komunitas TOR Yohanes Paulus II Ritapiret, Maomere, Flores – NTT.

Previous article
Next article

2 Comments to

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel