SosPol
Epifani Wajah Levinas dan Petaka Wabah
![]() |
| Pixabay.com |
“Akses pada wajah
adalah etika, karena wajah mengandung kejadian etis”. Demikian kata Levinas.
Ungkapan etis -
filosofis Levinas ini menyingkap nilai-nilai terselubung pada wajah. Semacam
ada tuntutan nilai etis-moralae yang mampu menawarkan ketelanjangan
moral kepada yang lain. Wajah yang mewartakan ketelanjangan total adalah
suatu pemberian diri tanpa memperhitungkan nilai untung rugi sebuah tindakan.
Maka, secara
gamblang Levinas hendak menyajikan suatu konsep keterbukaan diri manusia kepada
yang lain sebagai makluk bermartabat, etis, politis, dan bermoral.
Keterbukaan diri berarti memberi diri secara total kepada dunia sekitar.
Dalam
personifikasi ini, yang lain dilihat sebagai obyek diskursus, bahan
pembicaraan, refleksi sasaran pemikiran dari subyek. Yang lain itu
adalah mereka yang menderita, yang dikucilkan, tidak diperhatikan, mati
kelaparan, peperangan, atapun wabah pandemik, pun endemik. Epifani wajah yang
lain menjadi acuan etis pragmatis sebagai obyek pemberian diri.
Pemberian diri,
menurut Levinas adalah dia yang lain, yang bukan aku. Levinas mengatakan
bahwa yang lain sesungguhnya adalah yang lain, karena itu
kehadiran yang lain hendaknya dilihat sebagai suatu pemberian. Konklusi
ini membentuk sebuah wajah yang terejahwantahkan atau penampakan pada diri yang
lain. Pada aras ini, yang lain akan membentuk apa yang kita sebut
sebagai epifani.
Epifani merupakan
istilah Yunani yang berarti penampakan, pengejawantahan, atau perwujudnyataan.
Dalam tradisi Gereja Barat, penekanan epifani terdapat pada momen para Majus datang
menyembah bayi Kristus.
Momen yang juga
dikenang pada epifani Gereja Barat adalah pembabtisan Yesus dan karya mujizat
pertama Yesus mengubah air menjadi anggur di pesta pernikahan di Kana. Pada
momen ini dianggap sebagai momen dimana kemuliaan Kristus dinyatakan kepada
dunia.
Dalam filsafat
Levinas, epifani wajah dimengerti sebagai respons atas kehadiran yang lain di
hadapanku. Respon terjadi karena digerakkan dari luar. Lebih tepat Levinas katakan,
respons adalah suatu bentuk jawaban yang diberikan karena dipanggil oleh
yang lain.
Epifani wajah
adalah epifani personifikasi sebagai yang miskin, janda, yatin piatu, orang
asing dan yang telanjang, yang menderita, mati kelaparan, perang dan serangan
wabah mematikan. Maka, konsep epifani wajah dapat menarik diri kepada situasi
dunia saat ini yang sedang dirundung duka dan kecemasan. Epifani wajah dipahami
sebagai tanggapan reflektif konstruktif.
Eksistensi
Covid-19 yang sedang mengancam dunia saat ini menuntut manusia untuk
menghadirkan dirinya kepada yang lain, yang menderita akibat wabah
pandemik Covid-19. Penderitaan manusia (epifani yang lain) menjadi obyek pengejawantaan solidaritas global, baik
melalui bantuan finansial, maupun batiniah.
Dunia yang sedang
dirundung petaka global seperti sekarang ini, seakan sedang kehilangan harapan
dan gelagapan. Praktik ritual-liturgis Gereja ditutup sementara; masyarakat
publik diimbau untuk hidup dan bergerak dalam aturan social distancing
atau physical distancing, dan kebijakan
lockdown pun terpaksa dijalankan di beberapa negara.
Kehadiran subyek (epifani
subyek) bagi yang lain dalam posisi tragis seperti kita alami sekarang ini
semakin dibutuhkan. Bersamaan dengan itu, solidaritas global pun mulai
terkonstruksi secara struktural.
Di tengah
penderitaan dan kecemasan akibat penyebaran Covid-19 yang mematikan ini
menuntut sebuah epifani wajah. Di sini Epifani wajah bukan hanya secara imanen-transendensi
berupa doa dan ibadah tetapi juga secara prakstis nyata melalui bantuan
finansial serta kemanusiaan.
Hemat penulis, mareka
yang tergolong dalam kelompok subyek yang epifani, adalah pertama, pemerintah. Pemerintah
pempunyai tanggung jawab penuh dalam melindungi warganya. Karena itu,
pemerintah mesti memiliki nilai-nilai epifani wajah yang diejawantahkan secara
konkret dalam membantu dan menangangi penderita Covid-19.
Aturan-aturan yang
dikeluarkan oleh pemerintah mesti berdaya tranformatif konstruktif bagi yang
lain, jangan sampai mereka menerima dua dampak sekaligus yaitu nilai
kebaikan tapi juga tersingkap keburukan. Karena itu, model pemberian diri
pemerintah merupakan cara terbaik merawat solidaritas bangsa. Solidaritas
tergerak oleh karena ada nilai kemanusiaan yang tertanam dalam diri yang
lain sebagai yang bermartabat.
Kedua, subyek
epifani organisasional. Pembentukan sebuah organisasi memiliki landasan yang
kuat dalam melindungi bangsa dari keterasingan dan keteganngan massa.
Organisasi-organisasi berperan penting manakala kebijakan internal menjadi
pijakan dalam penanggulangan bencana pandemik, pun endemik.
Karena itu,
organisasi-organisasi non-pemerintah mesti bergerak keluar, memberi angin segar
kepada korban petaka Covid-19 dengan visi-misi yang dikumandangkan. Di sana
tanpa sadar akan terjadi epifani wajah yang terpukau. Organisasi-organisasi
diasosiasikan sebagai kelompok minoritas peduli kasih demi kemanusiaan manusia.
Ketiga, subyek
epifani Gereja. Seruan profetis Gereja dalam menangani petaka Covid-19 adalah
tanggapan lansung atas konstitusi pastoral dalam Eksiklik Gaudium et Spes,
Kegembiraan dan Harapan. Duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama
kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan,
duka dan kecemasan para murid juga (Gaudium et Spes, art. 1).
Gereja (katolik)
memahami bahwa komunitas adalah suatu yang dikehendaki oleh Allah dan merupakan
sebuah hadiah dari Allah. Kita sebagai makluk sosial yang hidup dalam komunitas
masyarakat, bangsa dan negara adalah ekpresi penting dari siapa kita atas
rencana Allah. Aras ini, Santo Thomas Aquinas mengatakan “bahwa dalam manisnya
hidup berkomunitas, carilah kebenaran”. Maka, kebenaran itu akan terjadi dalam
diri yang lain, makanala gereja membantunya.
Di tengah amukan pandemik
Covid-19 terbesit harapan, agar kita tetap memperhatikan sesama yang lain melalui
doa dan bantuan lainnya. Benar apa yang dikatakan Levinas bahwa membuka diri
berarti membuka kehidupan (la vie) dari dalam diri sendiri bagi yang
lain.
Lantas, siapakah kita bagi yang lain? Selamat membangun solidaritas global di tengah petaka wabah.
Frederikus Magung,
Mahasiswa STFK Ledalero,
Maumere
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment