Religi
Pesan Pesta Kebangkitan Kristus di Tengah Pandemi
![]() |
| Pixabay.com |
Umat Kristiani sejagat merayakan pesta Paskah kebangkitan Kristus,
Sabtu (11/4/2020). Perayaan yang selalu terjadi pada Sabtu malam itu, lazimnya
dirayakan secara meriah. Sebab dalam perayaan itu, umat
Kristen mengenang Kristus yang bangkit dari kubur. Atau dalam bahasa
imannya, Paskah merupakan “perayaan iman atas kemenangan Yesus mengalahkan
kematian”.
Namun kini, perayaan Paskah tahun 2020 ini dirayakan dalam
senyap. Umat Kristen mengikuti perayaan Kebangkitan Kristus secara online. Umat
tidak lagi berbondong-bondong ke Gereja. Mereka tinggal “diam” di rumah.
Berkumpul bersama keluarga, dan mengenang Kebangkitan Kristus secara online,
melalui HP, Laptop, dan TV.
Tradisi beli baju baru pun “mati” pada Paskah tahun ini.
Para imam menyelenggarakan misa tanpa umat. Jika tahun-tahun sebelumnya mereka
menatap ribuan umat, kini mereka hanya menatap “anggun” ke kamera, agar umat bisa saksikan melalui "layar kaca". Sungguh,
perayaan Paskah tahun ini terasa begitu sunyi. Ini semua karena ancaman pandemi
Covid-19.
Sebagaimana diketahui, bahwa pandemi Covid-19 ini begitu
mencemaskan sekaligus menakutkan. Virus yang membiak sejak akhir tahun 2019 ini
berhasil menghadirkan ketakutan akut pada umat manusia. Ia berhasil memicu
sekaligus mengalpakan nilai sosial dalam komunitas manusia. Eksistensi manusia
sebagai makhluk sosial serentak diuji di tengah wabah Corona ini.
Di satu sisi, Coronavirus berhasil mengekspresikan nilai sosial
manusia. Spirit solidaritas di tengah wabah mengalir deras. Actus melayani dan membantu sesama yang
menderita terpentas mengagumkan di atas panggung Covid-19.
Terlihat di mana-mana, para medis, aktivis, dan beberapa oraganisasi
sosial – beberapa yang muncul spontan - begitu berani dan setia menangani dan
melayani para pasien positif Corona. Juga, bantuan sosial mengalir deras kepada
sesama, terutama yang miskin dan papa.
Namun di sisi lain, Coronavirus memicu ketakutan akut pada
manusia. Lihat saja, beberapa daerah atau kampung menolak sesama manusia yang
pulang dari rantauan. Lebih khusus pemudik yang datang dari zona merah. Tidak
penduli, apakah para pemudik itu sehat, atau sudah melalui prosedur.
Perasaan takut akan Coronavirus itu serentak menguburkan
nilai sosial. Ekspresi homo homini lupus (manusia
adalah srigala bagi sesamanya) terlihat jelas dalam menghadapi wabah global
ini. Manusia sebagai sesama ditakuti dan dicurigai. Sesama seakan dilihat
sebagai srigala atau lebih tepatnya sebagai Coronavirus.
Perasaan takut merupakan perasaan dominan yang dialami oleh
umat manusia saat ini. Takut akan Coronavirus serentak terjelma menjadi takut
pada sesama.
Perasaan takut akan keganasan Coronavirus yang begitu
menggebu dalam diri umat manusia saat ini, coba penulis leburkan dalam seruan atau
renungan singkat RD. Eman Haru, Pr.
Dalam renungan singkatnya, imam Keuskupan Ruteng ini menegaskan
kepada umat Kristen untuk “jangan takut”. Dosen pada Sekolah Tinggi Pastoral
(STIPAS) St. Sirilus Ruteng ini menulis,
ketika kedua wanita meninggalkan makam, tiba-tiba Yesus
berjumpa dengan mereka. Mereka memeluk dan menyembah-Nya. Lalu Yesus meneguhkan
mereka, “Jangan Takut”, (Mat. 28:9-10).
Malam ini kita juga mendapat peneguhan Yesus ketika kita dan
umat manusia di seluruh dunia sedang dilanda ketakutan menghadapi pandemi Covid-19.
Jangan takut.
Yesus mau katakan, Dia adalah Tuhan yang hidup yang selalu
setia mendampingi kita dalam situasi apa pun. Termasuk saat ini ketika kita
berada dalam situasi mencekam dan menakutkan ini.
Dia yang hidup pasti menolong kita dan membebaskan kita dari
situasi ini.
Nah, sebagai orang beriman kita tentu diharapakan untuk
“jangan takut”. Namun secara manusiawi, rasa takut di tengah wabah tak bisa
ditutup-tutupi. Dan itu sebuah rasa yang wajar. Namun, perasaan itu seyogianya tidak
menegasikan nilai esensial manusiwi kita sebagai makhluk sosial.
Seruan “jangan takut” Yesus, juga ajakan “jangan takut” RD.
Eman Haru, Pr mau menegaskan kepada kita untuk jangan menguburkan nilai sosial
kita sebagai manusia. Kita tetap mesti menerima “yang lain” sebagiamana adanya.
Menghargai “yang lain” sebagai sesama manusia yang bermartabat. Yang terpenting
adalah kita tetap “hidupi” physical distancing.
#jangantakut(sesamamanusia)_selamatpestapaskah#
Rudi Haryatno,
Tinggal di Watu Langkas, Desa Nggorang, Labuan Bajo.
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment