Cerpen
Sastra
Riwayat Sebuah Jalan (2)
![]() |
| Jalan depan Seminari St. John Paul II dan SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, Kamis (26/3/2020) |
Jalan sepi di tempatku dulu menghabiskan masa SMA itu membawaku
kembali, “pulang ke dalam palung”, meminjam istilah seorang teman.
Bagi orang yang pernah ke Labuan Bajo, atau pun yang setiap
hari hari lalu-lalang di situ, jalan itu biasa-biasa saja sama seperti jalan
lain. Atau mungkin malah tidak seindah jalanan di lekuk Bukit Cinta, atau Bukit
Silvia. Tetapi, bagi saya jalan Langka Kabe sampai SMP Negeri I Komodo itu
bukan sekadar jalan biasa. Terlalu banyak hal yang saya lalui di atas jalan
itu, terlalu sedikit kolom ini untuk menceritakan tentang riwayat jalan itu.
Setiap jadwal pesiar pada hari minggu pertama dalam bulan
tiba, jalanan itu menjadi saksi bagaimana anak-anak kampung seperti saya
menyeberang jalan untuk menyambangi “Rumah Makan Kita”.
Awalnya saya mengira itu rumah makan gratis untuk siapa saja
karena namanya saja Rumah Makan Kita. Ternyata habis makan bayar juga. Meskipun
begitu semangat kekitaannya masih tetap berpihak pada anak-anak seperti saya:
kalau makan nasinya banyak, murah meriah, bisa tambah pula.
Selain itu, suasana yang paling mengenakkan di rumah makan
ini adalah engkau tidak akan merasa harga dirimu diolok-olok oleh orang kaya
dan berduit, karena yang makan di sana kebanyakan orang-orang yang memesan nasi
kuning dan ikan Teri. Harganya cuma lima ribu rupiah. Lagi-lagi, sangat cocok
untuk kantong tipis sepertiku.
Selain saksi bisu untuk menyeberang ke rumah makan kita,
jalan itu juga jadi pelipur lara jika hati merindu ingat bapa mama dan saudara
di Mberheleng. Biasanya “oto kol” (sebutan
kami untuk bis kayu) yang melayani rute Terang- Labuan Bajo selalu melintas di
jalan ini. Lihat mobil itu saja sudah sedikit mengobati rasa rindu yang
mengelora dalam kalbu.
Kalau ada oto kol
yang melintas di depan jalan itu, dengan ciri khas: musik dengan full bass,
tulisan terang pada samping kiri kanan, juga beberapa deret karung di atapnya.
Karung-karung itu berisi sekam padi yang biasanya digunakan untuk menjadi alas
ban mobil di jalan berlumpur ketika mobil “selet”
(macet, kandas, tertanam dalam lumpur).
Pada musim hujan pemandangan seperti itu lumrah. Semua orang
tahu pembangunan di daerah kami khususnya jalan, listrik, air dan lainnya
terhitung sangat terbelakang. Tetapi, para petani kami selalu menyuplai beras
terbaik dan hasil panen berkualitas untuk orang-orang di kota Labuan bajo.
Mobil-mobil itu yang menjadi alat transportasi yang
mengangkut bahan makanan yang membuat perut orang kota tak kelaparan dan dapur
mereka tetap berasap. Makanya saya tidak pernah malu jadi anak kampung,
meskipun diolok-olok karena terbelakang.
Saya hanya berpikir, mereka hanya bocah ingusan yang tidak
tahu bahwa kopi yang mereka minum tiap hari adalah hasil keringat petani di
desa-desa di Kolang. Gorengan yang mereka makan tiap hari itu Pisang dari
kampung yang dibeli dengan harga murah oleh orang kota. Mungkin mereka belum
paham desa adalah jantung kehidupan kota.
Kalau saja teman-temanku paham tentang tanggungjawab negara
waktu itu, pastilah kata-kata sindir dan satir tidak keluar dari mulut mereka.
Saya dan mereka mungkin akan memaki-maki pejabat di Kabupaten yang terlalu cuek
jadi pejabat Negara. Bila perlu menuntut agar segera turun saja dari kursi
pemerintah. Percuma ada wakil rakyat, tetapi hanya muncul pada musim kampanye.
Saya ingat, seorang sopir pernah berpesan agar saya mesti
belajar dengan tekun agar bisa jadi pejabat yang bisa memperbaiki kondisi jalan
yang tiap tahun merayakan ulang tahun kehancurannya.
Jalan depan SMAK itu juga jadi saksi bagaimana saya berjuang
bersama puluhan siswa dan siswi lainnya memeriahkan acara Sail Komodo.
Bayangkan, kami harus berjalan kaki dari depan Kantor Camat Komodo sampai Kantor
Bupati pada jam dua siang. Siang bolong, mentari panas, aspal panas, pake baju
merah, bibir bengkak tiup Terompet. Aduh mama
sayang ee.
Lebih kasihan lagi cheers
dan mayoretnya, goyang sepanjang jalan itu. Semua demi Sail Komodo yang menjadi
lahan para perampok merebut uang berkedok pejabat publik.
Katanya dengan adanya sail ini perekonomian kita akan
meningkat, masyarakat sejahtera. Cih, janji politik yang basi.
Hari-hari ini berita tentang Komodo itu menyayat hati,
mengusik nurani.
Kalau saja dulu kami tahu bahwa Komodo akan jadi tempat
wisata super premium yang
mensyaratkan pemindahan masyarakat Komodo, pasti saya akan berontak dan
memprovokasi teman-teman agar tidak mengikuti acara itu.
Sumpah, saya menyesal telah memeriahkan acara para perampok.
Saya ingin menyanyikan I love the way You
lie-nya Rihana dan Eminem.
Jangan terlalu percaya janji politik, apalagi pada musim
kampanye. Setelah dilantik, kau akan dibuang, ditendang dan tinggalah kau sendiri,
“mampus dikoyak sepi”, begitu sindiran Chairil Anwar.
Jalan sepanjang ratusan meter itu juga jadi saksi bagaimana
saya dan banyak teman membolos pada saat kegiatan belajar mengajar sementara
berlansung.
Pura-pura bernaung di bawah pohon Sawo, sambil mengintai
kapan Satpam lengah. Ketika saat itu
tiba kami pun merangsek, berlari menyeberang jalan. Tujuan yang paling dominan
adalah menuju kios kecil di belakang Mitra Jaya. Kios Mama Asti. Begitulah kami
pada setiap kelesuan melanda. ‘Mie Rebus’ Mama Asti menjadi solusi.
Bukan solusi untuk memecahkan soal-soal matematika atau
menghafal tulisan arab dalam mata pelajaran Sastra Indonesia.
Di kios kecil inilah banyak hal kami lakukan, tentu bukan
merencanakan kejahatan, apalagi melakukan kudeta. Bisa hancur hidup ini.
Biarpun bolos, kami tetap menjaga martabat kaum terdidik dan keluhuran nama Yayasan.
Adapun hal yang kami bicarakan seputar jadwal pertandingan
bola, siapa perempuan yang paling cantik di sekolah, kelucuan teman-teman dan
terakhir merencanakan kapan datang ke tempat itu lagi. Siklusnya selalu begitu.
Tanpa perencanaan pun kalau ada uang ya jalan, kalau tidak pasang muka tebal nebeng satu piring dengan
teman lain.
Kalau saja Mama Asti semacam mata-mata pastilah banyak orang
sudah dikeluarkan dari sekolah sebelum kabar kelulusan tiba, termasuk yang
tulis ini. Mama Asti mungkin berpikir bahwa kami bukannya membolos, karena
ketika ditanya jawaban kami selalu sama, “jam istirahat Mama”.
Rasanya berdosa juga berbohonga pada seorang ibu. Tapi,
perbuatan macam itu selalu diulang sehingga sudah kebal dengan rasa bersalah.
Pada jalan dua jalur itu, banyak sudah cerita dilukiskan. Tentang
anak-anak kampung yang mengejar impian di kota, tentang orang tua yang
menghantar dan menjemput anaknya setiap pagi dan siang, tentang beberapa pasang
kekasih yang berpegangan tangan sambil menggenggam buku-buku terbitan Airlangga
dan Intan Pariwara, tentang sopir-sopir bemo
yang menunggu anak-anak sekolah pulang ke rumah.
Juga tentang pejabat yang jujur dan yang korup, pejabat yang
pandai membohongi nenek-nenek tua dan orang di kampung, tentang agamawan yang
hanya pandai beretorika, tentang tukang ojek offline yang mencari penumpang demi membongkar stigma orang miskin,
tentang pejalan kaki yang tak punya uang sewa ojek, tentang orang-orang yang
membawa motor sein kiri belok kanan, tentang orang-orang kampung yang membeli
obat semprot padi, tentang guru-guru yang mengurus administrasi walau gaji
tidak menunjang, tentang pengejer kupon putih lalu lalang mencari angka,
tentang petugas koperasi yang lalu lalang mengejar uang kredit, tentang polisi
yang ugal-ugalan di jalan.
Juga tentang istri-istri yang mengamuk karena mendapati
suaminya selingkuh.
Terlalu banyak riwayat sebuah jalan. Adakah ia Tuhan yang
menyimpan segalanya dalam diam? Adakah ia cemas di tengah wabah yang mematikan seperti
sekarang ini? Entahlah yang saya tahu ia begitu setia menjaga rahasia-rahasia
dan merawat setiap peziarah yang melaluinya.
Kalau saja jalan itu bisa bicara, pastilah dia
mengolok-olokku. Tapi, itulah dalam diamnya dia menyimpan rahasiaku sampai
lulus dari SMA dan hengkang ke tempat lain.
Setiap kali saya melewati tempat itu saya selalu senyum
sendiri, sambil berbisik, “terima kasih semesta tetap menjagaku. Jalan yang
baik tolong jaga generasi kami ketika melintas di sini. Kau akan selalu baik
pada petarung yang tidak patah arang”.
Pada akhirnya, saya memiliki keyakinan, bahwa setiap hal yang dapat diinderai selalu punya nyawa. Pada setiap jalan, selalu bukan melulu tentang jalan yang beraspal atau penuh kerikil dan bebatuan. Sebuah jalan juga berkisah tentang pasang surut kerinduan, harapan, yang tetap dan berubah.*
Roland Nampu,
Alumnus Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo,
Tinggal di Nitapleat, Nita, Maumere - Flores - NTT.
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment