Cerpen
Sastra
Riwayat Sebuah Jalan (1)
![]() |
Jalan depan Seminari John Paul II dan SMAK St
Ignatius Loyola, Kamis, (26/3/2020).
|
Aku sampai lupa, sudah berapa hari aku berada dalam kamar
ini? Sudah berapa malam yang telah kulewati sendiri, berdua dengan sepi,
bertiga dengan kecemasan?
Setelah pengumuman darurat nasional karena wabah corona atau
Covid-19 dan instruksi Gubernur beberapa waktu lalu, hampir setiap hari
rutinitasku sama saja. Membosankan. Di dalam rumah hampir sepanjang hari.
Pada masa ini, itulah yang diharapkan pemerintah. Semua
orang harus menjaga pergaulan. Istilahnya social
distancing.
Tidak semua orang menerima term itu. Di tengah wabah virus
mematika ini ada cukup banyak orang juga tidak meninggalkan sikap kritisnya.
Mereka menganjurkan physical distancing,
karena yang kita harapkan adalah usaha mencegah penularan virus ini dengan menjaga
jarak. Jarak dalam arti fisik.
Sementara social
distancing itu memiliki konotasi yang negatif. Makanya istilah itu diganti
beberapa hari yang lalu. Hebat juga ya, pengaruh netizen di negara +62.
Tetapi yang membuat saya resah adalah munculnya informasi
hoaks yang bertebaran di mana-mana. Diksi yang dipakai media juga turut membuat
cemas orang-orang. Maksudnya memang mewartakan apa yang ada, tetapi bagaimana
pun psikologi orang akan terpengaruh dengan pemberitaan yang menakut-nakuti
seperti itu.
Banyak juga informasi sampah yang berseliweran. Anehnya
lagi, banyak juga yang percaya tanpa melakukan chek dan rechek, dikirim
dalam berbagai media seperti facebook
dan whatsApp.
Mungkin hanya dua itu
yang kulihat, karena hanya dua itu saja yang aku miliki. Entahlah! Eh saya jadi
curhat.
Yang pasti itu yang membuat hari-hari ini tambah mencekam.
Pemerintah dapat saja me-lockdown dan
meliburkan sekolah dan lain-lain, tetapi yang pasti virus kebohongan bertebaran
di mana-mana.
Kita sekarang diteror oleh dua virus mematikan: satunya
mematikan manusia secara fisik dan satunya lagi mematikan akal sehat. Untuk
menghindari penyebaran kebohongan itu, aku pun mulai meraih buku-buku yang
tersedia di atas mejaku.
Hari ini cukup menyebalkan. Sudah semestinya saya membaca
buku yang ringan, renyah dan memberi nutrisi kepada otak. Kuraih sebuah buku
puisi Nizar Qabbani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Musyfiqur
Rahman dengan judul “Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau”. Seperti kata
penerjemah dalam pengantarnya, aku pikir puisi dapat membantuku menggumuli sepi
dan menghadirkan hal-hal yang alpa dari ingatan, juga membahasakan kerinduan.
Dalam pengantar itu dia menulis, “puisi adalah media paling
kuasa mencitakan sebuah dunia bagi beragam perasaan, berbagai kenangan dan
beraneka obsesi serta harapan. Tidak hanya itu, puisi bak media pemutar waktu,
selalu mampu merekam segala jejak, mengabadikan seluruh langkah dan terlebih,
ia memiliki daya tarik paling sublim dalam menghadirkan banyak hal dari
kealpaan.”
Aku berharap setelah membaca puisi-puisi dalam buku ini,
saya kecipratan dapat menulis sajak.
Saya mulai membuka buku itu. Tanpa sengaja, jariku lansung
membuka halaman 96.
“Gila! Baru mulai, lansung loncat ke tengah”, eh jangan
keras-keras.
Aku cukup adil memberikan penilaian pada bagian tubuhku.
Jangan sampai tanganku mendengar itu. Ingatkah kau pada petuah Pram? “Adilah sejak
dari dalam pikiran”, begitu kira-kira.
Kesepadanan. Kasih, aku jatuh cinta/maka aku ada// Kasih aku
menulis/lalu kudapatkan kembali waktu yang sirna//
Ea saya teringat cogito
ergo sum - nya Rene Descartes - Saya berpikir, maka saya ada. Mugkin
penyair ini dulu belajar filsafat Descartes ya?
Sedang asyik-asyiknya membaca puisi, ponselku berdering. Eh,
ada kapal masuk.
Bukankah semua orang tahu juga kalau HP bergetar atau
berdering itu tanda ada pemberitahuan yang masuk?
Kulihat ada pesan masuk, kulihat sebuah pesan dari nomor
yang tak dikenal. “Pelanggan yang terhormat. hari ini anda mendapatkan hadiah
total sebesar 700 juta rupiah. Ayo ambil uangmu segera!”
“Em, nanti transfer kasih kau pung nene saja”, gerutuku.
Saya masih ada uang cukup untuk beli citra.
Siapa yang tidak jengkel mendapati pesan singkat seperti itu
setiap hari? Dari pada stres saya membuka story
WA, lalu cerita pertama saya
dapati pada seorang teman.
Kuperhatikan hanya jalan yang kosong. Cukup lama saya
menatap gambar itu. Oh ya, saya kenal betul dengan jalan pada gambar itu. Itu
jalan depan Seminari John Paul II dan SMAK St Ignatius Loyola. Tempatku dulu
menghabiskan masa SMA. Mungkin temanku ini ingin memberitakan bahwa Labuan bajo
sekarang sepi, jalanan itu yang biasanya ramai kini hanya dilalui sebuah sepeda
motor saja, paling tidak pada saat gambar diambil.
Sepinya Labuan dan jalan itu bukan urusanku. Namun, gambar
itu membuatku ingat akan sesuatu. Maka, mulailah aku berkelana mencari jejak
yang tertinggal, membangkitkan kembali kelana jiwa yang sudah lama tersesat
ini. Tentang jalan itu banyak hal yang ingin kuceritakan.
Bersambung ... (2)
Roland Nampu,
Alumnus Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo,
Tinggal di Nitapleat, Nita, Maumere - Flores - NTT
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment