Ads Right Header

Covid-19 dalam Perspektif Media

Pixabay.com


"Kata-kata bisa menelanjangi apa saja". Adagium klasik ini mau menunjukkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan dalam memengaruhi dunia. Melalui media kita bisa menjumpai pengaruh kata-kata ini.

Membanjirnya pelbagai informasi dalam dunia media daring sangat membantu kita untuk memahami tentang sesuatu. Media daring secara tidak langsung juga membuat pengetahuan kita bertambah dan pikiran kita menjadi melek informasi.

Kendati demikian, dalam menyampaikan informasinya, media daring tentu saja "menghipnotis" kita ke dalam alam bawah sadar jurnalismenya masing-masing. Dapat dimengerti bahwa jurnalisme media daring berusaha sedemikian rupa agar kita cepat percaya dan mensugesti alam bawah sadar kita menurut perspektifnya sendiri.

Pemberitaan Tentang Covid-19

Virus corona yang menjadi topik hangat di media daring saat ini misalnya, mampu mensugesti pikiran penulis. Sebagaimana sugesti, penulis merasa cepat percaya begitu saja akan informasi-informasi seputar virus corona di pelbagai media daring.

Poin saya ialah pelbagai media daring menyampaikan berita tentang virus corona dengan memakai pisau perspektif yang berbeda-beda namun membahayakan. Mengapa demikian?

Sebagaimana kita ketahui bahwa virus corona sudah, tengah dan mungkin akan selalu ada menyerang kita. Bahaya terkuak jika media daring melegitimasi fungsi jurnalismenya secara keliru dengan memberitakan bahwa virus corona merupakan virus mematikan bagi manusia. Dari perspektif jurnalisme media, hal ini tepat cara. Akan tetapi tidak demikian dalam perspektif psikologi manusia.

Suguhan berita tentang virus corona sebagai penyakit mematikan atau dalam bahasa senada juga disebut pandemi global (sebagaimana bahasa WHO), sangat keliru dan berbahaya bagi psikologi manusia pada umumnya dan pasien virus korona pada khususnya.

Betapa tidak. Virus corona yang diberitakan sebagai virus mematikan tersebut pelan-pelan terbaca oleh pikiran pasien. Alhasil, yang terbersit dalam pikirannya ialah kematian, kematian dan kematian. Secara eksplisit, ekses lebih lanjut dari suguhan berita semacam ini ialah munculnya pesimisme orang (baca: pasien) untuk hidup.

Korban misalnya bisa saja cenderung pasrah pada keadaan yang terjadi menimpa dirinya, lalu mengangkangi segala cara untuk mempertahankan hidup dari virus tersebut. Pada titik ini, psimisme orang dibaca sebagai konsekuensi logis lahirnya diksi "mematikan" pada virus corona menurut perspektif jurnalisme dari media daring.

Perspektif jurnalisme yang melihat virus corona sebagai virus mematikan boleh jadi karena dunia jurnalisme sekarang tendensinya mencari popularitas semata. Maksud saya ialah ketika orang membaca berita tentang bahaya mematikan dari virus corona di headline media daring, pembaca tertarik dan sekaligus merasa kaget sebab diksi "mematikan" menjadi sentral pemberitaan di sana.

Secara fungsional dunia jurnalisme, penggunaan diksi seperti ini yang kemudian membuat orang tertarik membaca berita tersebut sangat tepat sehingga popularitas media daring pun semakin meningkat. Akan tetapi, pemilihan diksi tersebut sebetulnya membawa orang tertentu kepada dunia yang lain bernama kematian.

Alhasil, gagasan kebenaran rasional (sebagaimana Arendth) dipakai media untuk membentengi diksi yang ia buat dalam pemberitaan. Hal ini berbahaya sebab kebenaran tersebut hanya berhenti pada titik nalar saja, di mana informasi tersebut belum menyentuh secara faktual-empiris.

Berkaitan dengan ini, filsuf modern James Madison melihat bahwa kebenaran rasional yang diberitakan pada media tertentu merujuk pada singularitas sebuah pikiran. Dengan demikian, oleh singularitas pikiran tersebut juga menyebabkan adanya negasi atas kebenaran faktual. Pada titik ini, jika diksi "mematikan" diafirmasi oleh media sebagai kebenaran maka psikologi orang pun terganggu sehingga pesimisme hidup menjadi awasannya di hari mendatang. Lantas kita mesti bertanya: Quo Vadis Jurnalisme?

Hemat penulis, berita-berita dengan diksi yang agak menakutkan pembaca, cenderung lahir karena perspektif dunia jurnalisme yang melihat kebenaran sebagai miliknya sendiri. Berkaitan dengan ini, mitologi kebenaran raja orang Yunani kiranya menjadi pembelajaran.

Mitologi Kebenaran dari Yunani

Dikisahkan bahwa dahulu kala, salah seorang raja Yunani mengundang rakyat-rakyatnya untuk tidur di ranjang emas kerajaan. Akan tetapi, yang menarik ialah bahwa orang yang diundang itu mesti menempati tempat tidur seluruhnya.

Dengan kata lain, rakyat mesti membuat ukuran tubuhnya sama dengan ukuran tempat tidur itu. Akibatnya, jika ia terlalu tinggi, maka kakinya digergaji. Sebaliknya, jika ia pendek, maka agar sesuai dengan ukuran tempat tidur itu kakinya harus ditarik oleh pengawal kerajaan.

Di sini kita melihat bahwa raja Yunani tersebut memaksakan ukuran idealnya kepada orang lain. Orang didesak untuk harus mengikuti ukuran kebenaran yang dia punya.

Pada aras ini, hemat saya, dalam dunia jurnalisme, kita tentunya tidak menginginkan hal semacam ini terjadi. Kita mesti menghindari diri dari absolutivisme kebenaran, melampaui ukuran kita, dan berani mendepak kebenaran tunggal. Kita tidak semestinya menjadi seperti raja dalam cerita tersebut yang tendensinya ialah mengorbankan orang lain, bahkan dengan kekerasan. Lantas, mungkinkah diksi jurnalisme tentang "mematikan" ialah sebuah kekerasan? Kapan kita menghentikannya?


Dery Dirmanus,
Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores - NTT,
Tinggal di Ritapiret



Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel