SosPol
Quo Vadis Perwakilan Akar Rumput?
![]() |
| Pixabay.com |
"Manusia
merupakan seorang pemain yang mempermainkan permainan." Dalam adagium
Latin klasiknya disebutkan manusia itu bertitel Homo Ludens. Homo Ludens
sendiri ialah sebuah konsep yang ditemukan dalam kebudayaan manusia. Setiap
kebudayaan mempertunjukkan karakter substansial manusia sebagai pemain (the player of game).
Pada
titik ini kita dapat mengerti bahwa manusia (human) dan kebudayaan (culture)
tidak dapat dilepaspisahkan dan tidak dapat dicabut eksistensinya, sehingga
keduanya saling melengkapi satu sama lain. Pasalnya, konsep mengenai Homo Ludens ialah juga tentang fenomena
kebudayaan dalam kehidupan manusia itu sendiri.
Eksistensi
kedua elemen kehidupan tersebut tentu saja membutuhkan sebuah locus atau tempat tinggal yang sama agar
keduanya bisa saling membantu, saling bereparasi supaya tetap eksis. Tempat
tinggal kedua elemen tersebut dapat kita sebut sebagai dunia di mana kita
berada kini dan di sini.
Dalam
dunia perpolitikan Indonesia, tidak sedikit artikel yang mengutarakan
interpretasi dan analisis dari pelbagai sudut pandangnya masing-masing tentang
relasi manusia dan kebudayaan. Tentu saja artikel-artikel yang dimuat itu mau
melihat kembali sejauhmana manusia eksis dalam kebudayaan politik (Politic Culture).
Kendati
banyak yang mengamini eksistensi manusia yang sangat mumpuni dan tepat cara,
tetapi tidak sedikit juga manusia diinterpretasi sebagai makhluk hidup yang
tidak menjalankan fungsi eksistensialnya bagi kebudayaan pada umumnya dan
kebudayaan politik secara khusus. Pada aras ini, manusia (baca: pemerintah)
dalam skop politik Indonesia misalnya, lebih senang dan mudah untuk saling
mempermainkan kekuasaan yang telah dimandatkan secara legitim oleh publik
(baca: rakyat).
Alhasil,
kekuasaan pun kemudian tidak lebih dipandang sebagai lapangan permainan
kekuasaan politisi, tidak mempertanggungjawabkan kemaslahatan kolektif (bonum commune). Bahaya meledak, jalan menuju
kecacatan politik pun kian inklusif.
Sebagaimana
Aristoteles, kecacatan politik yang demikian terjadi ialah realitas "an
sich" yang menegasi esensi manusia sebagai "zoon politicon."
Pada taraf ini, kita dapat memahami dan membaca bahwa kehidupan politik sudah
terintegrasi dalam diri manusia sejak ia lahir.
Di
sini, Aristoteles mengatakan bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk
politik; sudah menjadi pembawaannya untuk hidup dalam satu polis. Senada dengan ini, Isidorus Lilijawa melihat bahwa hanya
dalam polis, manusia dapat mencapai
nilai moral yang tertinggi (Lilijawa, 2010: 241).
Oleh
karena nilai moral yang paling tinggi inilah manusia mestinya berusaha untuk
menghindari kecacatan politik (the
political failure). Akan tetapi, terkuaknya daftar kecacatan politik yang
telah mendera bangsa kita, kian membentangkan "karpet merah" bagi
dekadensi esensi penguasa sebagai makhluk sosial-politik. Lantas, apa sajakah kecacatan
politik penguasa itu?
Pelbagai
kecacatan politik lebih diteropong dalam bingkai politik balas jasa. Politik
ini laksana tali yang mahakuat yang mengikat perjanjian antara penguasa dengan
bosnya. Pada aras lokal, Sidel menyebut pemerintah bertendensi membuat politik
balas jasa itu dengan bos lokalnya. Praktik kekuasaan semacam ini, hemat penulis,
dapat melahirkan dualisme kepentingan.
Pada
titik ini, kepentingan akar rumput menjadi tumbal, sehingga sikap
mendelegitimasi kesejahteraan umum pun dianggap wajar. Kita pun dapat melihat
bahwa penguasa akhirnya dipermainkan sepenuhnya oleh bos lokal. Logika bos
lokal mendikte segala kebijakan publik (public
policy) sehingga penguasa terkesan diam.
Hemat
penulis, aktus keberdiaman penguasa sebetulnya lebih bermuara pada sikap
apatisnya terhadap kepentingan akar rumput. Alih-alih menjanjikan kesejahteraan
pada segala dimensi kehidupan, penguasa semacam pangku tangan terhadap segala
janjinya.
Adagium
homo ludens, sebagaimana manusia bisa
dipermainkan begitu saja pun semakin tampak artifisial. Betapa tidak.
Pemerintah dalam konteks ini pun tidak lebih dari sekadar boneka milik bos
lokal. Ia dipermainkan begitu saja, jalan pulang kembali kepada harga diri
menjadi terbatas dan bahkan martabatnya sebagai orang nomor satu pun dihargai
sebelah mata.
Pada
konklusi ini, krisis harga diri pemerintah laiknya dipertanyakan. Lantas,
apakah harga diri ini mesti dipertaruhkan pada tubuh kekuasaan pemerintah
lokal? Jika demikian, agar harga dirinya kembali diperkuat, siapakah yang mesti
mempertanggungjawabkan hal ini agar tidak terjadi lagi?
Jawaban
terhadap hal demikian ialah rakyat sendiri. Hal ini bisa terjadi dalam
demokrasi. Rakyat (demos) mestinya kembali menegakkan pemerintahan (kratein)
sendiri agar pemerintahan itu berjalan tidak sewenang-wenang. Karena itu, bisa
dipahami jika rakyat membutuhkan dewan perwakilannya (legislator) untuk
memberikan pendapat.
Meskipun
demikian, keterwakilan akar rumput menjadi jauh panggang dari api kemaslahatan
bersama. Suara rakyat tidak sepenuhnya sampai kepada pemerintah. Bisa dipahami
bahwa dewan perwakilan akar rumput justru dipelintir atas nama politik
kepentingan. Dan ini bisa jadi geliat mamon versi bos lokal juga menggiring dewan
perwakilan pada kubangan politik kepentingan yang sama.
Alhasil,
kita paham bahwa dewan perwakilan dan pemerintah tidak lebih dari sekadar objek
permainan bos lokal. Keduanya terjebak dalam logika bos lokal. Jika demikian,
hal ini pun berdampak lanjut pada hilangnya suara rakyat sendiri. Suara serentak
terkalahkan oleh suara mamon.
Hari-hari
ini, kita diajak untuk melampaui sikap tidak terpuji tersebut. Kesadaran dengan
menggunakan hati nurani politik ialah keniscayaan bagi wakil akar rumput,
pemerintah dan bos lokal. Jangan sampai hati nurani itu tumpul hanya karena
geliat "money politic".
Oleh karena itu, pertanyaan kita seperti "Quo vadis perwakilan akar
rumput?", mestinya dicari jawabannya oleh dewan perwakilan sendiri, dan
juga terutama oleh rakyat yang empunya kekuasaan itu.
Dery Dirmanus,
Mahasiswa STFK Ledalero Maumere, Flores - NTT
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment