Puisi
Sastra
Puisi - puisi Selvi Grasantia
![]() |
| Pixabay.com |
DUNIA BERDOA
Sesalmu, "sekecil darah pun kami tak terbuat untuk
menyebar,
Maaf"
Kita belajar tak saling menatap, jua tak meratapi
Hari-hari adalah sepi
Memungut tubuh dari ramai
Menunggul sebagai sunyi
Bayang-bayang dipaku agar tak memadam siapa diri
Katamu, "waktu-waktuku meleper menjadi lembar-lembar
tisu
Tiba masa, merebak atau pecah
Orang-orang menjarak serta memagar; aku dipencil dan dikucil”
Saudara tenanglah,
Karena, dunia sedang menggiring doamu
Perawat menakung keringat
Untuk kita kembali jernih
Seperti sebelum kau dijangkiti
Degur kucar ini,
Menggali cinta Tuhan
Lebih dalam sujud
Lebih kasih terwujud
Tak pernah kami menyisih
Air matamu adalah air mata kami.
##########
PERCAKAPAN KECIL
Seribu diriku,
Perlahan-lahan keluar meninggalkan seorang aku
"Selamat tinggal, kita sangat ramai, aku ditugaskan
oleh waktu untuk mengosongkan ruang ini"
Kamar amat lenggang;
sepi makin menggerang tak tau arah,
berjudi kata atas nama dendam
Terlampau keji sunyi memakan hari
Makin balada waktu-waktu yang lahir
Kataku kepada diriku sendiri,
Kuhulur kepadanya, kunci merah plastik
Itulah terletak sepi
nasib dan hidup yang akan dipegang seorang diriku yang lain.
Selvi
Grasantia,
Guru Privat yang Suka Membaca dan Menulis tentang Apa
Saja. Tinggal di Lembor, Manggarai Barat.
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment