SosPol
Petaka Pandemik Covid-19 dan Stoisisme Terlibat
![]() |
| Pixabay.com |
Beberapa bulan belakangan, dunia sedang
diancam oleh wabah virus baru serentak mematikan massa tanpa mengenal tapal
batas teritorial. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan virus ini
sebagai pandemic atau wabah penyakit
global.
Wacana lockdown
pun semakin menguat diskursus publik tatkala kasus pandemik Covid-19 kian massif
dalam skala internasional, pun nasional. Bagaimana tidak, penyerangan Covid-19
dapat melenyapkan ribuan nyawa manusia.
Tragedi ini menciptakaan new history in the role of the world pada abad 21. Kebebasan
manusia pun direduksi, dialienasi oleh situasi yang mencengangkan peradaban
dunia dan yang menuntut manusia dunia dikarantina, di-lockdown serta melakukan social
distancing.
Dalam catatan sejarah dunia, hampir setiap
100 tahun sekali berbagai wabah, endemik bahkan pandemik melanda dunia.
Setidaknya, mulai sekitar tahun 1720 terjadi virus Maeseilee, yang menewaskan
200.000 orang.
100 tahun berikutnya, pada 1820 terjadi wabah
Kolera. Angka kematian sangat tinggi. Sementara pada tahun 1920 juga terjadi di
Spanyol, terjangkit sekitar 500 juta orang.
Seratus tahun berikutnya, pada tahun 2020 ini
dunia diguncang dengan virus korona yang pertama kali terjadi di daerah Wuhan,
China.
Sekedar menelisik sejarahnya, pandemic Covid-19
pertama kali diidentifikasi sebagai penyebab flu biasa pada tahun 1960. Hingga
pada tahun 2012, virus ini belum dianggap fatal.
Tetapi pasca adanya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-Cov) di Cina, para pakar
mulai berfokus pada penyebab dan menemukan hasil apabila wabah ini diakibatkan
oleh bentuk baru.
Pada tahun 2012, terjadi pula wabah yang
mirip yakni Middle East Respiratory Syndrom (MERS-Cov) di Timur Tengah. Dari kedua
virus itulah diketahui bahwa korona bukan virus yang stabil serta mampu
beradaptasi menjadi lebih ganas, bahkan virus yang sangat mematikan.
Prof. Soewarno, Wakil Dekan III Fakultas
Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga berpendapat bahwa virus korona
jenis baru yang sekarang berkembang, bukan merupakan sebuah hal baru melainkan
hasil dari mutasi. Virus ini serupa dengan corona yang menjadi penyebab
SARS-Cov dan MERS-Cov (Tribun, 06
Maret 2020).
Selanjutnya sejumlah pakar berpendapat bahwa
wabah ini disebabkan karena virus corona jenis baru.
Jika kita membaca berbagai literatur, baik
dari pemerintah yang berwenang, para pakar medis, tim kesehatan dan genetika,
virus ini sangat meresahkan. Media penularannya sangat unik, bisa melalui
sentuhan tangan manusia, melalui hewan serta berbagai media lainnya. Satu orang
yang terjangkit, maka akan meresahkan yang lain.
Berbagai dampak destruktif pun harus
ditanggung. Terputusnya rantai relasi sosial dan politik, menghentikan aktivitas
ekstratif, sekolah, perkuliahan, perkantoran serta wisata.
Mengancam kelesuhan perekonomian dan industri,
tingginya penggunaan media sosial sehingga tidak bisa terkontrol, ketiadan
pendapatan kaum buruh dan pedagang kaki lima, larangan terlibat dalam kerumunan
baik dalam ibadat liturgis, umrah, rekreasi ataupun kunjungan biasa dan serta berbagai
dampak negatif lainnya.
Katakana saja, target pertumbuhan ekomoni
Indonesia sulit tercapai dan akan menjadi skandal bagi recovery persoalan neraca dagang Indonesia.
Selain itu, dampak pengaruh Covid-19 dalam
kehidupan sosial masyarakat, di antaranya timbul rasa curiga dan hilangnya
kepercayaan kepada yang lain, tidak adanya pelayanan berjabatan tangan, merasa
enggan untuk berinteraksi dengan yang lain, dan mesti mejaga jarak satu meter
dengan orang, keluarga sekalipun.
Eksistensi Covid-19 yang mematikan ini
menyita perhatian dunia. Perhatian pemerintah dan seruan profetis Gereja pun
sangat tinggi. Cara penanganannya amat serius dan menuntut kepala negara turun tangan dalam melokalisir wabah virus
mematikan ini.
Penyebaran wabah virus telah merenggut ribuan
nyawa manusia dan membuat dunia panik, takut, cemas. Orang tidak lagi menguasai
serta mengendalikan diri dengan menciptakan situasi yang kondusif. Orang
cendrung responsif dengan penyebaran wabah virus sampai melupakan orang di
sekitar. Bahkan berita-berita (hoax)
oleh berbagai media pun akan dibenarkan karena setiap pribadi dihalusinasi oleh
keadaan.
Maka pada aras ini, perlu adanya
renponsivitas konstuktif dan solutif terkait pengendalian dan penguasaan diri
yang bersinar pada bahasan salah satu aliran filsafat terapan, yakni Stoisisme atau
Filsafaf Stoa.
Stoisisme adalah salah satu mazhab filsafat
Yunani yang didirikan tahun 108 di Athena oleh Zeno. Dalam aliran Stoisisme terdapat
beberapa pokok pikiran, salah satunya idealisme
Stoisisme yaitu manusia bijaksana yang hidup
selaras dengan alam, mengendalikan afeksi, menanggung penderitaan secara tenang
dan sebagai tujuan kehidupannya ialah rasa puas dengan kebajikan sebagai satu-satunya
sumber kehidupan.
Epicetus, yang mazhab Stoisismenya berkembang
pada abad kedua Masehi menyatakan ide penguasaan diri. Dia mengatakan, “ada
hal-hal yang berada dalam kendali kita dan ada hal-hal yang tidak berada dalam
kendali kita”. Maka demikian, sesuatu yang tidak berada dalam kendali kita,
tidak layak mengerahkan energi untuk dikendalikan, pun sebaliknya.
Artinya segala sesuatu yang terjadi dalam
dunia, dalam keseluruhan kosmos, manusia perlu menciptakan penguasaan diri
sebagai tanggapan lansung atas kejadian itu. Kendati demikian, manusia harus
berjuang bangkit menguasai diri dan menata masa depan agar tidak terbuai oleh
wabah terancam.
Penyebaran Covid-19 adalah suatu penderitaan
atapun kesusahan bagi manusia. Tetapi, yang membuat manusia susah juga adalah
pikiran tentang penyebaran virus itu. Kesal tentang sesuatu bukanlah hasil dari
sesuatu yang tampaknya menyesalkan itu, tetapi penilaian tentang sesuatu itulah
yang membuat orang tertekan.
Maka, solusi yang ditawarkan oleh Filsafat
Stoa adalah pergeseran dalam sikap terhadap hal-hal yang akan terjadi. Dengan
pengetahuan penuh serta penguasan diri secara total akan menyadari kita untuk
berjuang melawan situasi, yang mematikan sekalipun bisa dilengserkan.
Akhiruklaham, dalam menghadapi penyebaran
covid-19 ini, kita mesti melepaskan konsepsi bagaimana segala sesuatu mesti
berjalan, dan menerima segala sesuatu apa adanya termasuk yang paling menjengkelkan, meresahkan serta mencemaskan manusia, dengan tetap waspada.
Sebagaimana Zeno, kita mesti menanggung penderitaan secara tenang, dan sebagai tujuan hidupnya ialah rasa puas dengan kebajikan sebagai satu-satunya sumber kehidupan.
Frederikus
Magung,
Mahasiswa STFK Ledalero Maumere, Flores - NTT
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment