Religi
Sastra
Dear God,
Corona dalam Pusaran Kecemasan Global: Tuhan, Engkau tidak Tutup Mata kan?
(Sepucuk Surat Nestapa Buat Tuhan)
![]() |
| Pixabay.com |
Bagaimana kabar-Mu di Sana? Baik-baik saja, kan? Diri-Mu
sedang apa sekarang? Masih ngopi atau lagi tidur atau sedang mencincang daun-daun,
buah pisang muda, dan iris batang pisang untuk dijadikan makanan babi? Atau
sesungguhnya Engkau sedang melakukan aktivitas apa? Entahlah, aku sekadar ingin
tahu saja.
Maaf Tuhan, aku menyapa-Mu melalui sepotong kertas nestapa
yang kumal. Di dalamnya Engkau akan merapal kata-kata yang dirangkai dengan
tinta darah hatiku yang gundah gulana. Oh, yaaa, Engkau tahu kan? Bahwa aku
menulis surat ini di dalam sebuah kamar. Tak berkelambu. Tempat tidurku
beralaskan sepotong tikar tua yang disulam ibuku lima tahun yang lalu.
Ehhh, Tuhan, di luar sana sedang hujan. Rinainya
menggetarkan jiwaku yang lisut. Ditambah lagi aksi fajar yang membuka
selangkangan pagi hari. Keduanya bersenggama, sementara riuh gemuruh
seakan-akan menjadi melodi indah yang mengiringi perjalanan hidup mereka menuju
persinggahan akhir ke dermaga senja. Hari ini.
Begini Tuhan. Akhir-akhir ini, nasib kami sebagai warga
planet bumi hampir tidak menentu. Engkau pasti tahu kalau Corona, virus
milenial yang mematikan itu sedang menghantui umat-Mu.
Di China, Italia, Jepang, dan tak terkecuali Indonesia, juga
beberapa negara lain di dunia ini sedang dihantam badai Corona. Ada sekian
banyak manusia yang menjadi korban. Ada yang telah mati, ada yang sementara
dirawat baik di rumah-rumah sakit maupun di rumah mereka masing-masing, ada
yang khawatir, ada yang putus asa, ada yang merasa takut berlebihan.
Tuhan, Engkau tidak tutup mata kan?
Ketika ada ribuan mayat terkapar di berbagai rumah sakit, di
rumah-rumah pribadi, bahkan di jalan-jalan. Ketika yang masih hidup dan yang
berkondisi sehat dilarang menyentuh keluarga, sahabat, kenalan dan siapa pun
yang telah berubah rupa jadi mayat akibat virus Corona. Ketika tim-tim medis
yang bekerja saban hari menyembuhkan pasien Corona tetapi ternyata mereka tertular,
sakit, lalu mati.
Ketika tidak semua rumah sakit melayani pasien Corona dan
yang bersangkutan mau tak mau pasrah pada kematian. Ketika para ibu dilarang
walau hanya sebentar saja memeluk, meraba pipi, membelai rambut, mengelus
tangan dan lengan anak-anak, suami dan keluarga mereka sesaat sebelum jenazah
diantar ke rumah terakhir: liang lahat karena disulap Corona menjadi makhluk
kaku yang tak bernyawa.
Tuhan, Engkau tidak tutup mata kan?
Pandanglah wajah baru bumi ini. Di mana-mana, kegaduhan kota,
hingar-bingar manusia di tempat-tempat perbelanjaan dan tempat-tempat wisata
disulap menjadi seperti kota mati. Sunyi. Senyap. Garang. Mencekam. Menakutkan.
Di mana-mana, institusi seperti Gereja dan Pemerintahan dari
tingkat global, nasional, dan lokal menghimbau umat dan masyarakatnya untuk
tertib dalam barisan kebijakan yang ada terkait Covid-19.
Di mana-mana,
institusi-institusi (politik, budaya, Pendidikan, dll) di-non-aktifkan untuk
beberapa waktu ke depan.
Di mana-mana, tempat-tempat peribadatan ditutup dan
aktivitas peribadatan ditiadakan untuk sementara waktu.
Tuhan, Engkau tidak tutup mata kan?
Saat ini tiap-tiap orang merasa takut. Aktivitas bersin,
batuk, berjabatan tangan, atau sentuhan-sentuhan fisik lain yang selama ini
dianggap biasa-biasa saja, kini menjadi momok yang sangat menakutkan. Ketika
duduk bersama dengan yang lain, lalu salah seorang pun bersin atau batuk walau
bukan karena positif corona, tetapi ada celoteh dari sesamanya bahwa ia
terjangkit corona.
Itu sangat memalukan dan menjadi masalah bagi yang
bersangkutan. Saat ini banyak pihak yang menganjurkan aktivitas peribadatan,
perkuliahan, dan pekerjaan dilakukan secara online.
Aktivitas secara online itu memang ada baiknya juga, Tuhan.
Tetapi bagaimanakah kami bisa bersosialisasi dengan sesama lagi? Apakah adagium
klasik yang berbunyi: “No man is an island” rapuh di tangan Corona tahun ini?
atau hingga kapan? Sampai kapan kami mesti berdiam diri di rumah kami
masing-masing? Sampai kapan badai corona ini berlalu dari permukaan bumi?
Tuhan, Engkau tidak tutup mata kan?
Sebentar lagi umat-Mu akan merayakan pesta paskah. Aku tahu
ada misteri sengsara, wafat, dan bangkit-Mu di sana. Yaa, sebelum jaya, menang,
dan bangkit pada hari yang ketiga, Engkau telah lebih dahulu menanggung siksaan
dan sengsara yang hebat.
Dan, aku sangat yakin bahwa kecemasan dan ketakutan kami
saat ini tidak seberapa bandingnya dengan penderitaan yang Engkau alami puluhan
ribu tahun silam. Namun, Engkau tahu kami ini manusia biasa, Tuhan. Kami tidak
lebih luhur dari sebutir debu di alas kaki-Mu.
Bisakah Engkau menetralkan situasi di dunia ini yang
dibayang-bayang oleh keganasan covid-19. Layakkah aku memohon pada-Mu agar
Engkau menganugerahkan kondisi yang kondusif bagi hati kami yang risau dan
mengusap air mata kami yang bercucuran siang dan malam dengan menumpaskan virus
mematikan ini dari dunia kami.
Tuhan, umat-Mu mendambakan hati yang gembira untuk mengikuti
seluruh rangkaian Paskah tanpa ada rasa takut. Bantulah kami untuk segera
beraktivitas seperti sedia kala tanpa ada rasa canggung yang selama ini
kerapkali membuntuti pikiran dan perasaan kami. Dan, semoga yang saat ini
sementara sakit karena terjangkit covid-19, jamahlah mereka supaya lekas
sembuh.
Tuhan, Engkau tidak tutup mata kan?
Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca sebuah
informasi. Diberitakan bahwa ada kebijakan global yang mengharuskan warga dunia
untuk melakukan vaksinasi. Lebih lanjut, media itu melaporkan bahwa tindakan
vaksinasi cukup mendesak karena status gawat darurat akibat Corona yang dialami
makhluk berakal budi di muka bumi.
Saya tidak tahu apakah vaksinasi itu murni untuk menjegal
serangan covid-19 ataukah ini adalah bentuk setting-an
brutal yang sengaja dilakoni secara sembunyi-sembunyi oleh kelompok atau organisasi
tertentu untuk “mencuri” kekayaan yang kami miliki entah yang ada di dalam
tubuh maupun yang di luar tubuh kami, lalu vaksin itu menghantar kami ke suatu
kutub yang tak pernah kembali, bernama: kematian.
Tuhan, Engkau tidak tutup mata kan?
Di Indonesia, angka kematian karena terpapar corona kian
bertambah. Menurut data yang dilaporkan, kasus corona di negara ribuan pulau
ini 450 positif, 38 meninggal, dan 20 sembuh (KumparanNEWS, 21/03/2020). Belum
tahu berapa jumlah korban lagi pada hari-hari selanjutnya. Bukan mustahil jika
beberapa hari ke depan, ada penambahan jumlah korban yang positif Corona.
Ada satu lagi nih, Tuhan. Jujur, saya cukup bingung ihwal
asal-usul covid-19. Menurut desas-desus yang kudengar, virus ini diproyeksi
oleh oknum tertentu entah untuk kepentingan apa, saya juga kurang tahu. Jika
memang desas-desus itu ada nilai kebenarannya, kuharap Engkau, Tuhan yang
paling Maha dari segala yang ada berkenan menobatkan mereka. Atau jika ini
dianggap sebagai sebuah salib yang mesti kami pikul, kuharap “hari yang ketiga”
itu segera tiba agar kami pun ikut menang, jaya, dan bangkit bersama-Mu.
Tuhan, kuharap Engkau membuka mata, atas kedegilan hati umat-Mu. Atas ratapan jiwa kami. Atas
ketakutan kami. Atas segala yang telah, sedang, dan akan terjadi.
Tuhan, Engkau tidak menutup mata kan, untuk membaca isi yang
tertulis di dalam kertas nestapa kumal ini?
Aku tunggu surat balasan dari-Mu, Kawan.
Occe Idaman,
Mahasiswa Pascasarjana pada STFK Ledalero Maumere, Flores
- NTT
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment