Ads Right Header

Negeri di Atas Janji

Pixabay.com

Akhir-akhir ini para elite politik kita berada pada level yang memuakkan, karena tendensi destruktif pada panggung politik, terutama saat kampanye begitu kentara. Sikap dan situasi yang dikonstruksi sedemikian rupa, berorientasi hanya pada keuntungan pribadi, kekuasaan, dan elektabilitas pengakuan sosial serta popularitas.

Para elite politik bangsa kelihatannya pandai melakoni drama di atas panggung politik sebagai strategi untuk menarik hati rakyat. Kita bisa melihat perilaku dan pernyataan para elite politik di Indonesia sekarang. Banyak sisi naifnya, meskipun tidak semuanya.

Kadar kesadaran mereka seakan masuk dalam minus etika politik. Apa yang mereka lakukan sangat tidak memperhatikan esensi etika politik. Menjanjikan hal yang tidak pasti, itulah kebiasaan yang melampaui nalar publik. Janji yang tidak pasti itu masuk dalam kategori kemunafikan. Sebab apa yang mereka janjikan justru berakhir mengecewakan publik.

Konsekuensinpya, kasus korupsi justru lebih banyak lahir dari para elite politik itu sendiri di tengah factum kesenjangan ekonomi dan berbagai masalah sosial lainnya. Itulah hal yang sering dipertotonkan di republik ini. Pada iota ini, yang mesti kita lakukan adalah memperbaiki sikap dan memperhatikan secara khusus gerak laku elite politik bangsa agar mudah dikontrol oleh publik.

Terminologi elite menurut Vilfredo Pareto menunjuk pada kelompok atau golongan yang ada di suatu masyarakat yang memiliki keunggulan atau superioritas apabila dibandingkan dengan kelompok atau golongan lainnya (Haryanto, 2017). Ini dapat dipahami bahwa elite dikategorikan sebagai pribadi yang memiliki keunggulan, terutama dalam aspek intelektual.

Kita perlu melihat keadaan kiprah politik bangsa yang semakin tidak sehat sejauh ini. Tidak tampak intelektualitasnya. Para elite politik Indonesia tidak mencerminkan figur politik yang mengedepankan spirit kompetitif dan kompeten.

Hemat penulis, panggung politik bangsa saat ini sudah tidak lagi menjadi sarana publik yang baik dan/atau ideal, tetapi serentak sebagai sarana untuk menciptakan drama kemunafikan demi tercapainya kekuasan semata. Melalui hal seperti ini masyarakat semakin mencurigai, bahkan kredibilitas politik dipandang sebagai sistem yang rusak. Publik kemudian berasumsi bahwa sistem politik bangsa penuh dengan borok kemunafikan.

Transparansi politik semakin menurun. Dan secara parsial elite politik semakin cerdas dalam memberangus kebobrokan melalui janji manis saat kampanye. Menurut Parrot, kampanye merupakan suatu proses yang dirancang secara sadar, bertahap dan berkelanjutan yang dilaksanakan pada rentang waktu tertentu dengan tujuan memengaruhi khalayak sasaran yang ditetapkan (Kompasiana.com, 2016). Dapat dipahami bahwa kampanye sebagai suatu usaha elite politik untuk memeroleh elektabilitas suara dari pendukung politik (baca: pemilih).

Dalam kampanye misalnya (entah melalui spanduk atau kampanye lansung) para calon elite menjual segala visi dan misi serta menyuarakan janji manis sebagai strategi untuk menarik hati rakyat. Pada saat itu para elite politik tidak mempersoalkan seberapa dana dihabiskan untuk kampanye itu, tetapi hal yang terselubung adalah kedudukan dan kekuasaan.

Janji manis yang menggiurkan tersebut sangat manjur menghipnotis masyarakat. Masyarakat tergiur dengan apa yang dijanjkan lewat media maupun pada saat unjuk diri. Mesti diakui bahwa dunia politik saat ini telah tercemar oleh berbagai kejahatan terselubung dalam janji manis. Diri para elite politik tidak lagi bercermin sebagai pribadi yang otentik. Tendensi ini boleh dikatakan sudah menjamur pada realitas politik kita terutama pada panggung politik.

Poin penulis ialah perilaku para elite politik dengan strategi janji manisnya sangat membahayakan panorama politik bangsa. Dan ini akan terus terjadi dan menjamur dalam dunia politik. Pasalnya, para elite politik cerdas menciptakan ruang dan peluang untuk memenangkan kontestasi politik.

Tujuan politik sangat mulia yakni untuk kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat. Tetapi hal itu sudah mulai pudar, ketika para elite politik tidak lagi memperhatikan etika politik. Ruang politik dijadikan sebagai wadah untuk memperoleh kedudukan dan kekuasaan serta keuntungan yang berlimpah.

Janji manis yang dilontarkan hanyalah sebatas janji bukan perkara kesejahteraan masyarakat. Politik kita didiagnosis tidak sehat. Para pemimpin tidak lagi membaca realitas publik.  Figur politik tidak lagi dapat dipercayai oleh elemen masyarakat, karena janji yang tak kunjung ditepati atau sebagaimana dalam syair lagu disebutkan, "janji tinggal janji". Inilah kebiasaan yang menjamur dan menjadi tradisi para elite politik.

Akan tetapi, kehidupan para elite politik kita sudah mapan dan terjamin secara ekonomi. Sedangkan masyarakat hanya makan janji yang sudah dipoles dengan retorika cantik yang menghipnotis para khalayak politik (pemilih). Hal ini akan lebih berdampak pada perkembangan serta kemajuan dunia politik kita. Dunia politik kita tidak akan berkembang sampai pada taraf otentik, ketika elite politik masih membudayakan strategi yang kotor dan licik.

Hemat penulis, hal yang perlu dilampaui untuk mengatasi kepincangan dalam dunia politik kita ialah mengedukasi nilai-nilai moral dan nilai-nilai Pancasila. Dengan kehadiran dua gagasan pamungkas ini, setidaknya mampu menyadarkan diri para elite politik dari ambisi serta animo diri yang egoistik. Kekuasaan bukanlah suatu hal untuk mencapai kebahagian, tetapi merupakan proses yang otentik untuk menentukan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, kiprah dunia politik kita membutuhkan elite politik yang berani melawan ego diri demi keutamaan publik. Tidak perlu janji manis. Rakyat hanya mau pribadi yang mampu membawa negeri ini ke arah yang benar. Negeri ini butuh elite politik yang mampu membahagiakan rakyat. 

Semoga negeri ini tidak menjadi negeri yang dikuasai oleh “hanya janji”.



Tarsy Dasor,
Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores - NTT
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel