Religi
Selamat
memasuki masa tobat. Jangan lupa Tuhan dalam via dolorosa kita masing-masing.
Jalan Salib: Derita dan Cinta
![]() |
| Pixabay.com |
Di bukit Golgota, Kristus berada di puncak sengsara, tengah berhadapan dengan gerbang bahagia. Kesengsaraan
dan derita telah setia menemani perjalanan Putra Allah itu dari rumah Pilatus
hingga ke puncak yang dinamakan bukit Tengkorak itu.
Realitas
Via Dolorasa telah mempertontonkan
kebejatan manusia, serentak juga membuktikan kesetiaan Kristus terhadap perintah Bapa.
Dari
rumah Pilatus, awal sebuah sengsara melumat sang Tuhan. Cambuk-cambuk kebengisan,
tombak-tombak intoleran, dan suara cercaan terus menghujam tubuh Tuhan, dan
setia menemani langkah derita-Nya hingga sampai di puncak Golgota. Kaki yang
tak beralas, berjejak menerima sakit pada badan jalan yang bergaunkan kerikil
tajam. Tubuh kekar-Nya seakan tak henti-hentinya menerima tikaman, cambukan, dan
suara hinaan.
Di
bukit Golgota, tubuh itu terkulai lemas tak bertenaga. Raga-Nya diterjang
lelah. Daya dan energi-Nya mengalir ke luar bersama darah yang terus menetes, meliuk-liuk
disekujur tubuh tak bernoda.
Di
bukit Tengkorak, actus kekejaman dan
kejahatan seakan belum menepi dari raga yang lelah dan derita itu. Jiwa yang tak berdosa
itu terus disakiti. Golgota telah menjadi saksi kebejatan manusia, di mana tubuh Anak
Allah
dipaku dan digantung pada salib.
Dari
atas salib, Dia meradang dan meratap. Dia meradang kesakitan, sebab daging-Nya hampir
habis tersobek oleh cambuk kesombongan. Dia meratap prilaku manusia yang
tidak mempunyai cinta dan toleransi terhadap kehidupan.
Golgota
adalah saksi kesetiaan Kristus Tuhan pada suara Bapa, dan bukti cinta-Nya
kepada manusia.
Di
bukit Tengkorak itu, tanganya terentang antara langit dan bumi. Dari atas salib,
setelah lambung-Nya ditikam serdadu yang tak tahu malu, darah dan air mengalir keluar
dari lambung itu, membasahi bumi tempat kita berpijak. Ini simbol bahwa Kristus sungguh
mencintai kita. Walaupun kita berdosa dan menyakiti Dia; dia tetap memberikan
dan meneteskan air kehidupan dari lambung-Nya. Ia menyelamatkan kita dengan
darah dan air.
Di
akhir penderitaan-Nya, dia mengalami sakit yang yang tak dapat dibendung oleh
sisa daya-Nya. Dia tahu, bahwa maut akan menjemputnya.
Karena itu, sebelum Dia berpaling meninggalkan kehidupan,
sebuah nada setia terucap dari mulut-Nya yang penuh busah, “Ya Bapa, ke dalam
tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku”.
Hembusan
nafas-Nya berakhir bersama kalimat yang diucapkan-Nya dari atas palang
penghinaan. Nada ini serentak menegaskan kesetiaan Kristus pada Bapa-Nya.
Walaupun dia diterpa derita dan sengasara, tapi Dia tidak mengeluh dan
berpaling mengkhianati Bapa-Nya. Dia tahu bahwa, kesengsaraan yang dialami-Nya merupakan
awal dari kebahagiaan yang akan dinikmati-Nya.
Salib
melukiskan kesetiaan Kristus pada tugas yang diberikan Allah kepada-Nya. Salib
juga menggambarkan kecintaan Putra terhadap manusia yang berdosa. Dari
kesetiaan dan kecintaan-Nya itu terlihat jelas bahwa tak ada keegoisan dalam
setiap tapak Sang Tuhan. Dia berani ke luar dari diri-Nya sendiri demi memenuhi
perintah Bapa untuk menyelamatkan kita.
Apakah
kita sadar bahwa Kristus tersalib akibat prilaku dosa kita, dan demi
keselamatan kita? Bagaimana kita menanggapi ekspresi cinta Kristus yang
menyelamatkan itu?
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment