Sastra
Yesus, Lelaki Farisi dan Perempuan Berdosa
Episode Sajak
![]() |
| Pixabay.com |
EPISODE 1
Malam itu,
Remang – remang cahaya bulan separuh rupa
mengiringi langkah lelaki Farisi berbadan tegap dengan selembar papyrus usang
di tangan kanannya, mengayuh langkah terburu menuju Guru.
Sandalnya hampir terlepas. Bergegas
ditariknya tali yang membelit kedua kakinya sembari mengulum senyum kecil di
sudut bibirnya. “ ah..Guru..! maklumlah
aku orang Farisi kaya yang miskin”. Katanya sedikit bergurau. “ Sempatkan waktu – Mu sejenak untuk mampir
dalam perjamuan di rumahku. Kupastikan semuanya terjamin dan sandalku takkan
lagi terlepas.” tambahnya melengkapi maksud hatinya.
“Baiklah. Pergilah
dan siapkan segala sesuatu”. Sang Guru membalasnya.
Episode ini berakhir di bawah pohon kurma,
kala mereka berdua saling membagi arah. Malam dengan bulan separuh rupa pun
berakhir di sini.
EPISODE 2
Malam itu lagi,
Yesus datang dengan pakaian neces, berbaju
katun halus buatan sang Ibu tercinta. Sandalnya nampak kokoh di kedua kakinya. Senyuman
– Nya menambah kesan elegant atas rambut pirang – Nya yang disisir membelah
Yesus mengetuk pintu. “Ini Aku. Bukalah pintumu bagi – Ku”. Pintu jati tua itu pun
terbuka dan mulailah Yesus dengan perjamuan – Nya.
Episode ini menepi di rumah tua lelaki Farisi
tadi, di atas meja kebahagiaan yang teramat suci. Yesus tersenyum. Lelaki Farisi
itu tersenyum. Sementara semua anggota keluarga serta budaknya menelan segumpal
tanda tanya. Persetan !!
EPISODE 3
Masih di malam itu,
Sukacita berkeliaran mengejar setiap paras
yang duduk mengitari meja perjamuan. Sesekali anggur ditegak dengan kejam. Sesekali
kucing dan anjing pun mengamuk seolah menagih jatah. Sampai – sampai senduk
lelaki Farisi itu terjatuh dan ia hanya tertawa atas nama kebodohan dan egonya
sendiri.
Episode ini terus berlanjut sampai tak ada
lagi kata dan sajak yang terucap di atas meja perjamuan itu.
EPISODE 4
Kala malam menuju poros takhtanya,
Datanglah perempuan berdosa membawa sebuah
buli – buli pualam berisi minyak wangi. Dia mengetuk pintu, masuk dan langsung mengambil
tempat tepat di belakang Yesus sang Guru. Untaian kepingan air matanya pun
berjatuhan dan terus mengalir membasahi rupanya yang penuh dosa. Yesus
terhenyak dan membiarkan perempuan itu berbuat apa yang diinginkannya.
Sahabat. Ternyata kepingan air mata yang
terus berjatuhan itu dibalutnya pada kaki Sang Guru. Disekanya penuh kelembutan
dengan rambut panjang kecoklatannya itu. Sepanjang rasa bersalah dan dosanya.
Dan di akhir amalnya itu ia sisipkan sejuta
kecupan dari bibir yang paling hina pada punggung kaki Sang Guru lalu
menaburkan minyak wangi itu atas nama tolak pusara. Mengusir segala debu pada
tapak Sang Guru. Ia tampak sedikit gila bukan? Menghabiskan sesuatu yang berharga
pada apa yang menjilat tanah.
Yesus bangkit berdiri dengan semerbak wewangian
yang menggairahkan. Meraih tangan perempuan berdosa itu lalu membisikkan
sepenggal kata yang mewakili seluruh perasaan – Nya: “terima kasih saudari – Ku”. Yesus masih meraih tangannya, menuntunnya
mendekati lelaki Farisi itu dan mulai membuat sebuah analogi.
“Saudara – Ku. Tengoklah
betapa miskinnya dirimu sama seperti sandalmu yang hampir terlepas itu. Sejak
awal Aku masuk membawa seikat sukacita untukmu. Engkau tak pernah menyadarinya.
Bahkan Aku tak kauberi setimba air untuk
membasuh kaki – Ku. Tapi perempuan ini membasuhnya dengan kepingan air mata
yang hangat dan membalutnya pada punggung kaki – Ku. Engkau tak memberi kecupan
selamat datang di kening – Ku, tetapi ia sejak kedatangannya tak pernah
berhenti mencium kakiku. Bahkan kaki – Ku diminyakinya dengan wewangian indah
sementara engkau tak melakukannya sedikit pun pada – Ku”.
Episode ini beranjak pergi dari perjamuan ini
dan hanya menyisakan selaksa sesal pada jiwa Lelaki Farisi mengagumkan itu.
EPISODE 5
Masih di malam mencengangkan itu,
Yesus memburatkan senyuman yang paling manis
untuk perempuan berdosa itu.
Sementara lelaki Farisi itu tertunduk memikul
sesal di atas meja perjamuannya. Di akhir episode kelima ini Yesus memeluk
perempuan itu erat – erat sembari berbisik: “Pulanglah!!
dosamu telah Kubenamkan. Imanmulah yang telah menjadi Mesias bagimu”. Yesus melepaskan pelukan – Nya. Perempuan itu
berlalu.
Sementara di penghujung malam episode
terakhir itu Yesus hanya menepuk punggung lelaki Farisi itu dan berkata lagi: “undang Aku lagi untuk makan di rumahmu pada
ulang tahunmu nanti”.
Di puncak surga ketiga
Pada senja yang
menggairahkan
Kala birahi memenjarakan
kata.
Morgan Nikmat,
Alumnus STFK Ledalero, Maumere, Flores - NTT.
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment