SosPol
Raja Gadungan dan Politik Pengakuan
![]() |
| Ilustrasi, pixabay.com |
Baru-baru
ini jagad Indonesia dihebohkan oleh sebuah dagelan kerajaan fiktif ala raja
Keraton Agung Sejagat (KAS) Sinuhun Totok Santoso Hadiningrat yang bermarkas di
Purworejo Jawa Tengah.
KAS
merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir
perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan
Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai 2018.
Tatkala kita
ramai memperbincangkan tentang generasi milenial yang dianggap sebagai tulang
punggung, yang akan membaca Indonesia menjadi negara dengan ekonomi keempat
atau kelima terbesar pada satu abad kemerdekaan di tahun 2045, justru pada segi
lain, terlihat fenomena warga yang justru ingin kembali ke masa silam secara
keliru.
Mereka
mempersepsikan masa silam sebagai “kembali ke kejayaan” atau “kemurnian dan
kesempurnaan.” Tak tanggung-tanggung, legitimasi sejarah dipakai untuk
mengokohkan kerajaan baru semacam ini.
Dicermati, deklarasi
dan pemakluman KAS ini melibatkan masyarakat dari berbagai daerah. Mereka rela
menyewa mobil demi meramaikan perhelatan kerajaan fiktif itu. Barisan pendukung
berseragam laiknya keluarga raja, bupati, dan prajurit istana di masa lampau.
Dengan khidmat mengikuti upacara pembacaan dekrit dan peresmian KAS, meski
akhirnya menjadi bahan guyonan oleh netizen.
Dari sudut
pandang pertunjukan seni, dagelan penobatan raja Keraton Agung Sejagat ini
terbilang sukses dan tampak agung. Tertawa sembari mengelus dada. Barangkali itulah
reaksi publik saat melihat dagelan yang sempat bikin heboh ini.
Dalam
perspektif politik kekuasaan resmi, sebetulnya tidak ada yang dikhawatirkan
lantaran tidak mengganggu ketentraman dan keamanan. Andaikan mereka tidak
melakukan pelanggaran hukum, sebetulnya ada keunikan yang mereka tampilkan.
Bagaimana mereka membangun jati diri, menetapkan cita-cita besar, kemudian
merekrut sekian banyak pengikut, sejatinya bisa dijumpai di banyak tempat.
Akan tetapi
jika ditelusuri lebih dalam lagi, apa yang dikerjakan 'raja' Totok yang
didampingi permaisurinya tersebut tidak hanya mengarah pada lelucon semata.
Lebih dari itu, Keraton Agung Sejagat merupakan sebuah dagelan politik yang
tidak biasa.
Seperti juga
berlangsung di tempat-tempat lain, pemunculan kelompok-kelompok dengan
penampilan begitu ‘wah’ dan ‘nyentrik’ semacam itu ternyata diam-diam
mengandung pelajaran berharga sekaligus autokritik baik terhadap sistem maupun
tatanan sosial tertentu semisal negara.
Fenomena
yang kita tertawakan itu jangan-jangan justru berhasil membuat sebagian orang
merasa dekat dengan kenyataan di mana mereka punya tempat serta peran “layak”,
relevan, dan kembali menjadi subyek dalam masyarakatnya. Mereka mungkin justru
mengisi ruang kosong yang telah kita tinggalkan meski secara salah.
Analisis
Politik, Azyurmadi Azra menyebut fenomena ini sebagai halusinasi disruptif. Hal
semacam ini muncul dari kegagapan informasi dan teknologi; deprivasi ekonomi,
kemiskinan, dan pengangguran; ketidakseimbangan pembagian kekuasaan politik dan
obsesi politik; kepincangan sosial budaya antarkelompok; dan pelarian
psikologis dari masalah akut tak terpecahkan dalam kehidupan (Kompas, 23/01).
Dalam
konteks penobatan raja KAS boleh dikatakan sedang mempertontonkan problem
sosial yang selama ini ditutupi: demokrasi telah dibajak para oligark. Prosedur
mapan, seperti mekanisme undang-undang dan peradilan, dianggap sebagai alat
kepentingan elite belaka.
Tamparan Bagi Demokrasi
Pada akhir
abad ke-18, Benyamin Franklin menyebut demokrasi sebagai matahari terbit.
Matahari itu terus bersinar, memberi terang dan sampai saat ini tetap menjadi
pusat serta tumpuan harapan bagi begitu banyak orang di berbagai penjuru dunia
dalam usaha menuju tatanan hidup yang penuh dengan kebebasan dan bermartabat.
Terkait hal
ini, Francis Fukuyama dalam bukunya yang berjudul: The End of History and the Last Man, berpendapat bahwa sistem
demokrasi menandakan akhir dari evolusi sosial-budaya umat manusia dan bentuk
pemerintahan manusia paling akhir. Menurut Fukuyama, demokrasi menjadi sistem
dan bentuk pemerintahan manusia yang paripurna.
Akan tetapi
seiring bergulirnya waktu, demokrasi sebagai suatu sistem dan tatanan yang
paling baik dalam kehidupan manusia bukanlah tanpa persoalan. Dalam praksisnya
sistem ini turut membidani lahirnya aneka persoalan.
Filsuf besar
Yunani Kuno, Plato sebenarnya sedari awal sudah meramalkan hal ini. Plato menulis, "bisa jadi
demokrasi menjadi mimpi buruk dalam sistem pemerintahan".
Ada beberapa
alasan, yakni pertama: demokrasi bisa
mengarah pada gerombolan 'mafia' pemuas hasrat sesaat. Kedua: demokrasi yang dikuasai pandir yang hanya pintar beretorika.
Ketiga: demokrasi mengarah pada
intrik pertikaian.
Menghindari
hal tersebut, Plato mengajukan filosof-raja sebagai kepala negara. Filosof
tidak diragukan lagi sebagai pencinta kebenaran mestilah mengambil keputusan
sesuai prinsip kebenaran dan keadilan. Pesan Plato cukup jelas, pemimpin harus
cinta kebenaran dan mampu menegakkan keadilan. Gugatan Plato sangat mungkin
benar.
Untuk
konteks Indonesia, sistem demokrasi yang dijalankan selama ini ternyata telah
turut membidani lahirnya pelbagai persoalan akut seperti korupsi, kolusi, dan
nepotisme yang semakin marak belakangan ini.
Berita
mengenai penangkapan orang-orang yang terlibat dalam pencurian uang negara tak
henti-hentinya memenuhi media hingga hari ini. Dari pemerintah daerah hingga
pemerintah pusat tak luput dalam jerat korupsi.
Tak
tanggung-tanggung, nilai kerugian negara akibat kasus korupsi bahkan mencapai
triliunan rupiah. Tentu masih basah dalam ingatan kita ketika Presiden Jokowi
menyebut demokrasi Indonesia sebagai demokrasi kebablasan. Dikatakan demikian
karena, menurut Jokowi, praktik demokrasi kita sudah sampai ke titik maksimal,
bahkan melampauinya.
Karena itu,
yang terjadi ialah kondisi demokrasi yang tidak ideal atau bahkan kekacauan,
Kekerasan massa seperti kerusuhan, huru hara, pengeroyokan, penjarahan,
pembantaian, pemberontakan, intoleransi, radikalisasi, dan revolusi bertumbuh
subur di mana-mana. Mereka seakan-akan telah menjelma menjadi monster berkepala
banyak.
Politik Pengakuan
Apa pun itu,
dagelan politik penobatan KAS mengindikasikan api dalam sekam penegakan hukum
dan demokrasi di Indonesia saat ini. Politik dan hukum di negeri ini masih
sumbing untuk rakyat jelata, tapi sangat melunak untuk orang-orang berkantong
tebal. Mentang-mentang memiliki jabatan dan status yang wahid, segala norma dan
prosedur hukum dan etika demokrasi dengan mudah dikangkangi.
Yang
mengerikan, hukum dan demokrasi sejauh ini sudah dijilat para mafia politik dan
pemodal yang berkeliaran di berbagai penjuru institusi hukum untuk merekayasa
pasal-pasal demi mengamankan kepentingan diri/kelompok.
Oleh karena
itu, kasus penobatan raja Keraton Agung Semesta yang ramai diperbincangkan saat
ini harus menjadi refleksi bagi pemerintah dari pusat hingga daerah untuk
mengembalikan demokrasi kepada khitah yang sebenarnya.
Demokrasi,
sebagaimana dari artinya ialah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat harus
benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dagelan
politik ala KAS sudah seharusnya menjadi autokritik bagi pemerintah pusat dan
daerah agar lebih militan membela dan menjamin perikehidupan anak bangsanya.
Hal ini bisa dilakukan lewat kebijakan yang pro-poor serta menegakkan kembali
prinsip-prinsip demokrasi dan kesetaraan sebagai jubah kebesaran yang
membungkus setiap warga dari terik apatisme dan keserakahan sosial.
Presiden
Jokowi selalu mengingatkan, bahwa demokrasi berarti mendengarkan suara rakyat. Itulah
esensi demokrasi yang sesungguhnya, yakni ketika rakyat berani bersuara dan
memiliki akses atas berbagai sumber daya, serta dapat mengelola sumber-sumber
daya tersebut untuk membawanya ke taraf hidup yang lebih baik, termasuk di
dalamnya menikmati kue pembangunan dari pemerintah.
Negara harus
hadir untuk memainkan peran yang riil agar rakyat bisa menjadi subyek, bukan
terus-terusan menjadi obyek. Peran negara sangat strategis dalam perkara
semacam ini. Jika ini yang terjadi maka kasus dagelan penobatan raja yang ‘wah’
dan ‘nyentrik’ ala KAS di Purwokerto baru-baru ini tidak akan pernah terjadi
lagi dalam wajah demokrasi kita saat ini.
Har Yansen,
Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere - Flores - NTT
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment