Puisi
Sastra
Kumpulan Puisi Theresia Mulyanti Genggong
![]() |
| Ilustrasi, pixabay.com |
Kala
itu, Aku Berada di Ruang Kelam
Pertemuan empat mata
Kau bisik kata demi kata di telinga kiri,
Telinga kanan mendengar desiran angin,
gulungan ombak, gerak telapak kaki mereka
Membiarkan kata-kata itu mengalir di sekujur
tubuhku
Menyentuh lubuk hati, hingga aku bodoh untuk
memahami setiap inti sari sore itu
Kala itu aku berada di ruang remang-remang
Sorotan matamu benar-benar aku bidik dengan
apik
Aku lupa kita telah melampaui binar senja
Selesai…
Januari 2020
#####
Sisi Sabtu Malam
Kupandang
malam yang semakin hening
Barangkali
ada kabar
Untuk
menjemput Sabtu malam
Dua
sajak telah aku bacakan di teras rumah
Aroma
tubuhmu masih saja jauh dari sisi Sabtu malam.
Ruteng, 3 November
2018
#####
Berjaga-jagalah
Musim
hujan penuhi kota ini
Nikmatilah
segala tetesan bening dan hening dari langit abu-abu
Dan jaga
jiwa raga dari kuyup.
#####
Di Suatu Malam
Di suatu
malam, aku menulis segala rayuan, semoga kau membacanya
Hurufku
jelek, namun demi matamu aku berusaha meneteskan tinta dengan penuh hati-hati,
dan aku tak biarkan jemari-jemariku bermain salah.
Di suatu
malam, aku menulis dengan cara yang mengetarkan diriku dan dirimu,
Sedikit
takut, suara desah keluar
Ya, aku
menulis di bawah lampu tak bernyawa, seakan aku menjaga malam
Karna
malam telah larut aku putuskan kita bertemu di mimpi-mimpi malam, aku tak
sampai hati bila kau lelah membacanya.
#####
Kenangan Februari
Sehabis
aku mencintaimu, bolehkah aku rindu
Dengan
takaran tak melebihi dosis kekasihmu
Mencintai,
merindukanmu saat-saat musim hujan begini dan duduk menghabiskan secangkir kopi
rasanya lebih puitis
Sembari
mengintip postingan kenangan di media sosial
Hahaha,
janji-janji manis kita begitu manis dikecap,
Kau di mana?
Boleh aku rindu?
Februari 2020
Theresia Mulyanti Genggong,
Mahasiswa PGSD pada UNIKA Ruteng.
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment