Ads Right Header

Hujan Keparat

Ilustrasi, pixabay.com

Dahulu kala ada sepasang kekasih yang saling mencintai dengan begitu rupa.

Si lelaki mencita-citakan sebuah rumah hati yang nyaman bagi kekasihnya dan perempuan itu menjanjikan keutuhan hati yang tak terbagi. Hari-hari mereka adalah siklus penuh warna; sebuah pencarian penuh rindu akan bahagia bersama.

“Aku mencintai sederhanamu,” kata si wanita, suatu hari.
Laki-laki itu diam saja. Seperti biasa.

“Kamu tahu kenapa?” Tanya wanita itu lagi.
Laki-laki itu masih diam, kemudian menggelengkan kepala dan tersenyum.
“Karena oleh sederhanamu, kamu tidak butuh alasan untuk bahagia.”
“Hahaha”
“Kenapa tertawa?”
“Tidak.”

Kemudian mereka sama-sama diam. Sementara itu, hujan mengguyur kota mereka dan senja berangsur-angsur menyelimuti kota. Keduanya sama-sama mencitai hujan, hujan yang turun sesaat sebelum senja terbenam.

Mereka punya banyak kenangan tentang hujan, dan tentu saja yang paling tidak mungkin terlupakan adalah kenangan tentang hujan yang bergerai pada senja saat mereka pertama kali bertemu.

“Hey, jangan ada jedah,” kata si lelaki, memecah keheningan.
“Kenapa?”
“Bahaya.”
“Hahaha sial. Kenapa kamu suka warna biru?”
“Karena biru itu selalu teduh,” tegas, si laki-laki menjawab.

Begitulah, mereka saling mencintai dengan begitu rupa. Sampai pada suatu hari sepasang kekasih ini bertengkar dengan sangat hebat.

Karena kemarahan yang tak tertahan, si lelaki mengusir wanita itu dari rumah hatinya, dan kekasihnya itu pergi dengan air mata dan janji untuk tidak pernah kembali. 

Beribu permohonan maaf dilayangkan, tapi perempuan itu bergeming. Begitulah perempuan itu melangkah kian jauh dari impian yang mereka rangkai bersama. Dia kian menjauh dan menjauh, mencari bahagianya sendiri.

Sampai suatu hari, mungkin karena kelelahan yang teramat sangat, perempuan itu beristirahat di sebuah hati yang mencintainya dengan menggebu-gebu.

Lelaki yang yang ditinggal itu, yang kini benar-benar sendiri, akhirnya mengerti. Cerita mereka telah berakhir.

Dalam mimpi-mimpi malamnya yang paling sedih, lelaki itu kerap mengigau: Apakah kau ingat hujan yang turun di hari pertama kita bertemu?

Tidak!

Tapi aku ingat semua tetesan hujan yang menyiksaku semenja engkau pergi.


Tomy Duang,
Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores-NTT.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel