Cerpen
Piluh 28 Oktober
![]() | ||
| yrh.photo |
Liano,
putra bungsuku mengeluarkan suara tangisan pertama setelah sekian lama
berlindung di dalam perut ibunya. Ruangan
kecil dan sempit itu terasa istimewa. Bagaimana mungkin makhluk seperti putraku
bisa begitu nyaman tertidur selama 9 bulan di dalamnya. Aku mencoba menyentuh
bibir mungilnya, lalu mengangkat dengan
kedua tanganku. “Ohh, kecil, mungil, dan yah, sangat lucu“.
Ibunya
masih terbaring lemah. Aku mencium keningnya dan mengusap pipinya.
“Beibh,
terima kasih sudah mempertaruhkan hidupmu
untuk kami”, batinku. Wanita hebatku itu hanya tersenyum, dengan tatapan
begitu dalam. Seakan ia mengerti isyarat
kecupanku bahwa aku sangat mencintainya.
***
Pagi
tadi aku sungguh dibuat gelisah. Ini kali ketiga aku menyaksikan proses
kelahiran anakku . Empat tahun setelah kelahiran putri kami, Anna Fabiola Cleovin
Serli. Rasanya tidak tega melihat ia berjuang sendirian. Tapi tidak seperti
sebelumnya saat kehadiran Etsan dan Cleo
putriku.
Kali
ini aku lebih khawatir. Aku berjalan mondar - mandir seperti orang bingung.
Beberapa perawat rumah sakit diam - diam
memperhatikanku, sambil tersenyum. Ada beberapa yang berkomat kamit lalu
tertawa kecil. Tapi siapa yang peduli.
Wanitaku
sedang mempertaruhkan hidupnya. Aku mencoba merasakan apa yang dihadapinya saat
ini. Tapi jangankan merasakan, membayangkannya saja aku tak sanggup.
Begitu
mulia mengemban tugas itu. Ku ingat, aku pernah membentaknya karena ia meminta
bantuan saat aku sedang sibuk. Beberapa kali aku bosan memperhatikannya, dengan
tubuh besar dan berjalan terseok - seok.
Aku
memang pria yang sangat egois. Aku menyesal pernah bersikap sebodoh itu. Tapi
sampai detik ini, saat sebagian hidupnya seakan sudah tiada, ia tak pernah
mengeluh, apalagi mengingat- ingat kesalahanku. Ia hanya sibuk menguatkan hatinya agar bisa
melalui dua jam yang mencengangkan itu.
“Bebh!”,
begitu panggilan sehari hariku untuk wanitaku itu.
Teman
temanku lebih akrab memanggilnya Alice. Sedangkan Daddy adalah sapaan kesayangannya
untukku.
Sudah
sembilan tahun kami berjalan bersama, mengarungi ombang-ambing rumah tangga
yang tidak tentu. Tidak seperti musim yang sudah pasti akan datang jika sudah
tiba masanya. Meskipun begitu, tidak sekalipun Alice berpikir untuk meninggalkanku.
Padahal, dia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ia putri tunggal
kesayangan ayah dan ibunya.
Kami
bertemu semasa kuliah di pulau Bali, pulau tereksotik di Indonesia yang pernah
kudatangi. Aku jatuh cinta padanya dan dengan percaya diri memutuskan menikahinya
diusia yang sangat muda. Dua puluh (20) tahun . Kami benar benar menikah, setelah
mendapat restu kedua orang tua kami masing - masing.
Keinginanku
yang kuat itu tidak bisa mengalahkan saran orangtuaku untuk melanjutkan kuliah
lebih dahulu. Semua serasa baik-baik saja, hingga kelahiran Etsan putra
sulungku dalam hidup kami.
Hugo
Et Omnes Santi Serli. Itu nama terbaik yang kuberikan untuk putra pertamaku
itu. Saat itu, entah bagaimana, aku
mulai merasa menjadi seorang ayah diusia muda. Ternyata tidak semudah yang ada
dalam pikiranku.
Aku
kemudian memutuskan mencari pekerjaan sebagai seorang driver di sebuah perusahaan
mobil ternama di pulau Bali. Blue Bird nama perusahaan itu.
Sebagai
Ayah muda, aku memiliki kesadaran untuk membahagiakan keduanya. Alice dan Etsan.
Dua Malaikat pertama yang telah hadir dalam hidupku kala itu.
***
Sekali
lagi aku ingin mengingatkan diriku bahwa Alice wanita yang lemah lembut dan
penuh kasih sayang. Tak pernah sekalipun ia melawan kata-kataku. Apalagi membentak.
Pernah
sekali aku mengecewakannya. Dan untuk mendapat maaf, aku tidak ragu berlutut, bahkan
sampai mencium kakinya.
Itu
hanya hal kecil yang bisa kulakukan, dibanding apa yang telah ia perbuat untuk
kami. Menyerahkan tubuhnya disayat-sayat
demi menyelamatkan buah hati kami.
Kupikir
tidak ada kalimat yang cukup bisa mewakili rasa sayangku padanya.
Jika
nanti suatu waktu aku harus mendahuluinya, aku ingin mengatakan ini, “terima kasih Alice, bidadariku yang sangat
kucintai. Terimakasih telah hadir dalam hidupku. Aku tentu tidak bisa mengahadapi
hidupku sendiri tanpamu. Kau ciptaan teristimewa. Anugerah Pencipta yang luar
biasa".
***
Sudah
setengah hari di 28 Oktober 2018. Matahari sudah beranjak menempati bagian
tertinggi semesta. Kuharap Alice dapat mengetahui isi hatiku ini.
Selamat
datang putraku , “Diego Camili Jimeno
Serli.” Selamat jalan istri tercintaku. Bahagia di duniamu. Jadilah pendoa
untuk kami berempat.
Du'a Bella
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment