Religi
Ora et Labora
![]() |
| yrh.photo |
Laju digitalisasi abad ini seakan tak
terbendung. Manusia tidak dapat menyangkal fakta akselerasi teknologi itu.
Manusia hanya mampu beradaptasi dan memanfaatkannya untuk mempertahankan
eksistensi dalam ruang publik.
Eksistensi sentral digitalisasi dalam
kehidupan manusia membidani perubahan yang tidak dirasakan oleh manusia
sendiri. Entah perubahan yang bernilai positif, atau negatif.
Salah satu yang kentara dari kemajuan
teknologi itu, adalah manusia mensubordinasi eksistensinya sebagai homo religius, dengan lebih memprioritaskan
pengekspresian hakikat diri sebagai homo
faber. Manusia mulai tak tertarik mengembangkan naluri religiusnya melalui doa.
Berdoa dianggap basi dan ketingglan zaman. Sebaliknya, kerja selalu
diekspresikan dalam setiap detik.
Ora et Labora yang diharapkan berjalan
beriringan, kini di tengah akselerasi digital, berjalan pincang. Orang lebih
banyak mengaduh persoalan dan pergolakan batin pada media sosial (facebook, twitter,
atau lainnya), daripada disharingkan kepada Empunya Kehidupan melaui doa.
Tulisan
ini bermaksud untuk mempublikasikan urgensitas penjagaan keseimbangan antara
Ora et Labora dalam kehidupan. Sebelum sampai pada maksud itu, penulis terlebih
dahulu mengurai arti ora et labora dan meramu hubungan antara keduanya.
Memahami
Ora et Labora
Ora et Labora (Berdoa dan Bekerja)
merupakan adagium Latin yang mengafirmasi ungkapan Yakobus dalam suratnya,
bahwa “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (Yak. 2: 17).
Bahwasannya, hubungan Ora et Labora dapat dijelaskan dalam pemahaman “iman dan
perbuatan”.
Doa menggambarkan iman. Iman dan doa
mempunyai keterkaitan langsung dengan yang Ilahi. Iman menunjukan kepercayaan
kepada Allah, sementara doa merupakan salah satu bentuk perwujudan iman paling
nyata.
Doa disederhanakan sebagai komunikasi
dengan Wujud Ilahi yang diimani. Aktivitas iman atau doa terwujud dalam aneka
bentuk, seperti devosi, ibadat (secara bersama atau individu), dan ekaristi.
Sementara perbuatan mempunyai relasi makna dengan kerja (Labora). Secara artifisial, perbuatan merupakan sikap dan
atau aksi yang ditunjukkan manusia terhadap sesuatu yang berada di luar
dirinya. Ada aspek sikap atau penilaian moral dalam perbuatan.
Sementara itu, kerja sebagaimana
didefinisikan oleh seorang filsuf perempuan, Hannah Arendt, dipahami sebagai
aktivitas manusia yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hariannya demi
kelangsungan hidup. Namun, dalam konteks relasi Ora et Labora, kerja mempunyai
cakupan arti yang luas. Kerja dapat dihubungan dengan perbuatan dan karya
(memproduksi sesuatu). Kerja dan perbuatan dihubungkan karena dalam praktiknya,
menuntut aspek moral.
Kerja dan perbuatan juga berhubungan
dengan keberadaan manusia yang sosial dan keberadaan “yang lain”. Dengan kata
lain, perbuatan dan kerja selalu berhubungan dengan sesuatu yang berada di luar
diri manusia pelaku.
Manusia tidak dapat bekerja dalam
dirinya sendiri. Manusia hanya dapat disebut berkerja jika berhubungan dengan
“yang lain” di luar dirinya, baik dengan manusia lain maupun dengan
tumbuh-tumbuhan, hewan, atau pun benda mati-benda tak hidup.
Menjaga
Keseimbangan Ora et Labora
Ungkapan Ora et Labora hendak menunjukkan
hubungan tak terlepaskan antar-keduanya. Seperti iman tanpa perbuatan adalah
mati, demikian doa tanpa kerja adalah sia-sia.
Sia-sia orang berdoa siang - malam,
jika tidak dibarengi atau dikuti dengan kerja. Demikian sebaliknya, bekerja
tanpa doa bagai membangun rumah di atas pasir. Usaha dan kerja akan cuma-cuma
atau tak bermakna jika tidak disertai dengan doa. Jadi, doa dan kerja mesti
dipraktikan secara tak terpisahkan dalam kehidupan manusia.
Dalam pemahaman orang beriman, kerja
dan doa mempunyai hubungan yang intens, tak terpisahkan. Doa menjadi dasar atau
sumber kekuatan bagi manusia yang bekerja. Tanpa doa, manusia beriman tidak
berdaya atau kehilangan spirit untuk melakukan sebuah pekerjaan yang berguna.
Atau, pekerjaan yang tidak dilandasi dengan doa akan berakhir sia-sia. Hasilnya
tidak seperti yang diharapkan. Demikian, doa tanpa kerja dipahami sebagai aktivitas
iman yang semu dan pura-pura.
Dalam 1 Petrus 5:7 terulis, “serahkanlah segala kekuatiranmu
kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu”. Penyerahan kekwatiran itu tentu
dengan cara berdoa. Kekwatiran dalam kerja mesti diharingkan pada Empunya Kekuatan,
bukan diwartakan dalammedia sosial facebook, twitter, dan lainnya.
Nilai riil dari doa mesti diwujudkan
dalam kerja atau dalam bahasa Yakobus, “perbuatan”. Doa yang menunjukan relasi
akrab dengan Tuhan akan sia-sia, jika tidak diwujudkan dalam kerja atau
perbuatan. Doa dan kerja mempunyai relasi yang tak terpisahkan. Hubungan
keduanya bak dua sisi mata uang. Keduanya mesti dipraktikan dalam perjalanan
hidup riil manusia beriman.
Perkembangan yang mendera zaman kita
saat ini sepertinya mengaburkan hubungan antara Ora et Labora. Orang lebih
pentingkan kerja daripada doa. Orang lebih banyak berkerja dan melupakan waktu
untuk berdoa.
Demikian sebaliknya, orang lebih
banyak kusuk dan tekun dalam doa sampai lupa mempraktikan substansi dan isi
doanya dalam kehidupan nyata. Hal ini nyata, dalam mana orang lebih lantang dan
syaduh menyebut nama Tuhan, tetapi tindakannya jauh dari sifat Tuhan yang penuh
kasih, cinta, dan pemaaf.
Karena
itu, agar doa tidak membubung kosong, maka mesti diwujudkan dalam kerja dan
perbuatan. Demikian sebaliknya, agar kerja tak sia-sia, maka mesti didasari
oleh doa.
"Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian
jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati." (Yakobus 2:26).
Jadi, "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan
perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi
sempurna." (Yakobus 2:22).* (yrh)
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment