Ads Right Header

Angin Kencang Menelantarkan Umat Stasi Nggorang


Atap teras samping Gereja Katolik Stasi Nggorang terangkat menutupi atap bangunan utama Gereja, akibat amukan angin kencang, Sabtu (22/11/2019).
Bangunan Gereja Stasi Beata Maria Theresa Nggorang, Paroki Theresa Lisieux Longgo, Labuan Bajo, Desa Nggorang menjadi sasaran amukan angin kencang, Sabtu (22/11/2019). Atap teras sebelah Timur (kiri dari pintu masuk) bangunan  Gereja itu roboh.

Kejadian itu terjadi pada pukul 16.00 WIT. Berawal dari gemuruh guntur, hujan gerimis, kemudian angin kecang, yang seakan berjalan beriringan menuju bangunan Gereja yang berdiri tegak, tepat di atas bukit Watu Langkas itu. Namun, sungguh seperti sebuah keajaiban, atap bangunan utama Gereja masih terlihat kokoh. Hanya atap teras samping Gereja yang luluh-lantah. Sepertinya angin kencang itu hanya tertarik untuk memorak-morandakan atap teras samping Gereja itu.
  
Salah satu kecemasan para pengurus Gereja dari naas itu adalah sebagian umat akan terlantar, duduk berserakkan di luar Gereja saat mengikuti misa/ibadat setiap hari Minggu, dan terkhusus saat Hari Raya Kelahiran Sang Juru Selamat, pada 25 Desember 2019 mendatang.

Maksimus Urung, salah satu umat menerangkan kepada argumentasi.com via WhatsApp, “jika kerusakan ini tidak diperbaiki segera, maka bukan tidak mungkin, umat akan tetap duduk berserakkan di luar gereja saat perayaan Natal , 25 Desember nanti”.

Umat Mengikuti Misa dari Luar Gereja

Sebagian umat Stasi Nggorang duduk kyusuk di bawah pepohanan, dalam mengikuti Misa Minggu pertama Adven, Mingggu (31/11/2019).
Pantauan argumentasi.com, umat terlihat duduk berserakkan di bawah pepohonan di sekitar bangunan Gereja saat mengikuti misa, Minggu (31/11/2019). Mereka mengikuti misa dari luar bangunan Gereja, karena gedung Gereja itu tidak dapat menampung seluruh umat Stasi Nggorang yang hadir. Sungguh, ketiadaan tempat untuk duduk kusyuk di Gereja tidak mematahkan hasrat umat untuk berdoa.

Untuk diketahui, bahwa Gereja katolik yang dibangun pada tahun 2001-2002 ini pada awalnya tidak mempunyai tempat duduk umat di sayap bagian Timur Gereja. Sebab pada saat itu, jumlah umat Stasi Nggorang tidak seberapa. Karena itu kecemasan akan ketiadaan tempat duduk di dalam Gereja tak ada. Semua umat termuat di dalamnya.

Namun dalam perjalanan waktu, jumlah umat terus bertambah, sehingga Gereja yang diresmikan oleh yang mulia Mgr. Eduardus Sangsun, SVD pada 2002 ini tak dapat menampung semua umat di dalamnya.

Menghindari umat bersimpuh di luar Gereja saat misa, maka para pengurus Gereja berinisiatif untuk membangun teras bagian sayap Gereja pada awal tahun 2019. Pembangunan ini berdasarkan musyawarah dan konsensus antara umat dengan pengurus Stasi, Bapak Ande Hebat, bersama Pastor Paroki, Pater Marsel Barus, O.Carm.

“Karena melonjaknya jumlah umat katolik di Stasi Nggorang ini, maka Dewan Stasi dan Pastor Paroki membangun teras sebelah Timur itu, melalui musyawarah bersama umat Stasi Nggorang”, terang Maksimus Urung kepada argumentasi.com via WhatsApp.

Kurang Dana
Terpantau argumentasi.com, teras samping Gereja yang rusak itu belum ada tanda-tanda untuk diperbaiki atau dibangun kembali. Namun ini bukan berarti bahwa pengurus Gereja apatis terhadap kejadian itu.
        
Maksimus Urung kepada argumentasi.com menerangkan, “memang ada rencana untuk rehab, tapi toe mek bae jelas waktu na (belum jelas waktunya kapan?). Hanya Pastor Paroki sangat mengharapkan mungkin ada yang mau sukarela untuk membantu pembangunan teras samping ini untuk sementara. Supaya bisa digunakan saat natal nanti.”

Natal semakin mendekat. Tentu umat Stasi Nggorang sangat mengharapkan perbaikan-pembangunan teras samping itu. Ini bermaksud agar umat tidak terlantar dan berserakkan di luar Gereja saat mengikuti misa Natal, 25 Desember 2019.

Harapan umat ini tentu tak dapat diwujudkan segera. Sebab, sebagaimana informasi yang diterima argumentasi.com, akumulasi kerugian material dari amukan angin kencang itu adalah sekitar 30-an juta. Jumlah ini tentu sangat fantastis bagi umat di Stasi Nggorang yang mayoritas penduduknya petani sawah. Adalah kemustahilan bagi mereka bersukarela dalam sekejap untuk membangun kembali teras itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Siapkan Hati Menyambut Tuhan
Setelah seminggu atap samping Gereja Stasi Nggorang roboh, umat Katolik seluruh dunia, termasuk umat Stasi Nggorang memasuki masa Adven, Minggu (31/11/2019).

Kata “Adven” merupakan turunan kata Bahasa Latin, yakni “Adventus”. Artinya “kedatangan”. Dalam masa Adven, umat Katolik Roma maupun Protestan menyiapkan diri menyambut pesta Natal. Pesta kelahiran Yesus Kristus. 

Masa Adven digeluti umat Katolik selama empat Minggu. Tahun ini, Minggu pertama Adven sudah dibuka pada Minggu, (31/11/2019). Pada masa ini umat Katolik diharapkan mempersiapkan kadang hatinya untuk menyambut kelahiran Sang Juru Selamat pada 25 Desember 2019.

Nah, naas yang menimpa bangunan Gereja kebanggaan umat Stasi Nggorang sejatinya tidak  memudarkan makna Adven sesungguhnya. Atau setidaknya, akibat peristiwa alam itu tidak melunturkan spirit umat dalam memaknai Masa Adven, dan serentak dalam menyambut Natal. Umat sejatinya tetap menyiapkan kandang hati untuk menyambut Sang Juru Selamat.* (YRH)

 

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel