Ads Right Header

Doa Seorang Piatu



Puisi Doa, tulisan Sony Atiape.
Doa merupakan ungkapan iman pada Yang Ilahi. Ungkapan iman terlantun dalam aneka bentuk, seperti lisan atau tulis, dan atau sikap-perbuatan. Lantunan doa yang dikumandangkan secara lisan atau tulis, lebih banyak dikemas dengan gaya bahasa puitis. Dan terkadang doa itu juga panjang-panjang. Kata-katanya tak beda jauh dengan “gombalan” para lelaki untuk kekasihnya.

Tulisan ini, coba melihat secara garis besar sebuah puisi lepas karya Sony Atiape, siswa SMP Seminari Petrus van Diepen, Aimas, Sorong-Papua Barat.

Sejak dari tanggal 26 Agustus 2019, Sony meninggalkan Seminari menuju ke kampungnya. Dia pergi tinggalkan Seminari tanpa pamit, entah di pimpinan dan pembinan di Seminari, atau dengan teman-temannya. 

Puisi yang diulas penulis ini ditemukan di bawa kolong tempat tidurnya. Tulisan itu, terdokomentasi rapi dalam sebuah buku catatan miliknya.

Yang menarik untuk dieksplorasi dan ditafsir adalah perihal substasi dari tulisan singkatnya. Tulisanya serupa doa. Yah, puisi doa.

Penulis tidak mempunyai kapasitas untuk mengupas puisi ini dari sisi gramatikal. Penulis hanya melihat puisi ini secara umum. Penulis membacanya dengan kacamata seorang awam sastra.

Rindu itu Berat

Oh Tuhan tolonglah saya semoga pater dorang bantu saya ka Tuhan. Saya mau pulang ke kampung dengan memakai pesawat ka Tuhan.
Engkau Maha Penyayang
Dan Engkau Maha Pengasih
Engkaulah yang empunya Kuasa dan kemuliaan
Sampai selama-lamanya
Amin
Semoga Tuhan mendengar doa
Dari anak piatu ini
Amin
Yang saya harap
Hari Senin dan Selasa saja Tuhan.

Puisi ini ditulis tanpa judul. Dan sebenarnya, jika dilihat pergulatan Sony sebelum meninggalkan Seminari, intense penulisan puisi ini adalah bukan untuk dijadikannya puisi. Ini sebanarnya adalah sebuah doa. Sebuah harap yang tak dapat dikabulkan oleh orang-orang terdekatnya, seperti “bibinya”.

Dia sebenarnya, ingin pulang. Tak punya niat untuk bertahan di Seminari. Hanya keluarganya yang mendesak. “Saya datang ke sini, karena desakan keluarga, bukan karena keinginan saya sendiri”, kata Sony suatu waktu ketika ditanya perihal alasannya untuk pulang ke kampung.

Rindu “kampung” sepertinya membuncah dalam nubari Sony. Ruang hatinya seakan sesak dengan rindu itu. Dinding jiwanya seakan tak kuat menahan dentuman suara harapnya. Dia sepertinya tak puas melantun secara lisan harapannya pada Sang Khalik. Seakan menyuarakan secara lisan tak cukup. Maka dia pun mempatrinya secara tulis.

Menulis adalah caranya menuangkan tumpukan harapan dan beban rindu. Penulis bisa bayangkan, pasti ada kenikmatan dan kepuasan tersendiri setelah dia menulis isi rindunya dengan rapi.

Secara umum puisi doa ini menggambarkan isi hati sang penulis, Sony. Ini seperti doa yang tak dapat lagi tertampung di hati. Sony sebenarnya sudah lama ingin meninggalkan Seminari. Namun keinginannya itu ditahan oleh keluarganya, juga oleh para pembina di Seminari. Puncaknya adalah pada Senin, 26 Agustus 2018. Dia pergi meninggalkan Seminari. Dan tentu, dia menulis doa ini, sebelum waktu dia pergi.

Seperti diterangkan sebelumnya, kerinduan untuk pulang sudah didengungkan jauh sebelum tanggal 26 Agustus 2019. Namun, kerinduanya tak terpuaskan, karena orang tua mendesaknya untuk tetap bertahan. Sepertinya, kerinduan itu begitu kuat menggema dalam nubarinya. Benar kata Dilan, “rindu itu berat”. Dan seperti itu yang dirasakan Sony.

Beban rindu itu serentak menggugahnya untuk menaruh harap pada Tuhan. Meminta pada Tuhan, agar rindunya terpuaskan. Oh Tuhan tolonglah saya semoga pater dorang (mereka) bantu saya ka Tuhan. Saya mau pulang ke kampung dengan memakai pesawat ka Tuhan. Penempatan kata “tolong”, di tengah intensinya, menggambarkan keriduan yang terdalam agar impian dan harapannya terwujud. Yah, kerinduan untuk pulang ke kampung.

Dia sepertinya tak ingin lagi menutur rindu itu pada orang terdekatnya, keluarga, dan pembina. Sebab pada mereka, tak ada jawaban yang berhasil melepaskan beban rindunya. Dia sepertinya, tak punya tempat lagi untuk menutur rindunya, kecuali hanya pada Tuhan. Dan dia seakan tak puas melisankan isi hatinya. Karena itu, dia menuangkannya dalam sebaris puisi.

Tulisan ini bukan sekadar coretan kegundahan biasa. Atau bukan hanya sekadar untuk mendokumentasi sebuah puisi. Tetapi lebih dari itu, puisi ini seperti sebuah solusi untuk membuka gundah dan sesak dalam dirinya. Dia memang benar-benar ingin pulang.

Setelah menuangkan kerinduan terdalamnya, kemudian diikuti dengan lantunan pujian kepada Tuhan. Sungguh, dia sepertinya sedang “menggombal” atau yah, “merayu” Tuhan, agar keriduannya dapat terwujud. Siswa yang berasal dari Yuruf, Jayapura ini seakan yakin benar akan kuasa Ilahi. Dari sini, kita bisa tahu bahwa imannya sungguh teguh pada Tuhan.

Puisi lepas ini merupakan doa paling tulus dari seorang anak. Selain tulus, ini adalah simponi paling polos pada Tuhan.  Doanya tidak panjang-panjang. Doanya singkat tetapi bermakna. Oh Tuhan tolonglah saya semoga pater dorang bantu saya ka Tuhan. Saya mau pulang ke kampung dengan memakai pesawat ka Tuhan. Semoga Tuhan mendengar doa / Dari anak piatu ini. Suara doa ini, begitu lugu dan polos. Tak ada poles-poles. Tuhan seperti diletakkan begitu dekat dengannya. Doanya seperti shering perihal rindu.

Menariknya, doa ini tidak mengutuk orang yang tidak memuaskan kerinduannya. Dia tidak mengumbar “sakit hati” pada mereka yang sudah membiarkannya menanggung rindu itu. Tak ada umpatan dan suara dendam pada doa itu. 

Doa itu hanya fokus pada kerinduannya. Ingin pulang. Tak ada yang lain. Hanya pinta pada Tuhan untuk meringankan beban rindunya. Membuka jalan baginya untuk "pulang". Sebuah doa tulus yang lahir dari kerinduan paling dalam tentunya.

Baginya, doa bukanlah ajang untuk menyampaikan dendam. Intensi doa bukan untuk menimpa kutuk bagi sesama yang lain.. Selain itu, doa bukan hanya sebuah intensi penuh harap, tetapi juga sebagai cara menghilangkan gundah dan tumpukkan beban rindu.*

Rudi Haryatno
Tinggal di Seminari Petrus van Diepen, Aimas, Sorong-Papua Barat. 





Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel