SosPol
Kecemasan Pembangunan di Manggarai Barat
![]() |
| Foto Pribadi dari Rudi Haryatno |
ARGUMENTASI - Pada tahun 2020, Kabupaten Manggarai Barat (selanjutnya Mabar) akan menggelar Pilkada, pemilihan Bupati dan Wakil Bupati. Semarak menjelang Pilkada tersebut sudah mulai terasa sekarang.
Beberapa sosok mulai merapat ke partai-partai, meminta jasa “kendaraan” politik itu untuk kepentingan Pilkada mendatang. Ada yang mendaftar sebagai bakal calon Bupati, juga sebagai bakal calon Wakil Bupati.
Kenekatan beberapa tokoh itu untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati dan wakil bupati tentu karena mendapat dukungan rakyat. Mereka tidak akan senekat itu, jika tanpa dukungan dasar itu.
Selain itu, mereka adalah pribadi yang tentu punya idealisme, mimpi, dan konsep untuk membangun Mabar. Mereka tidak ingin idealisme, mimpi, dan konsep itu bergeming begitu saja. Mereka berhasrat menuangkannya dalam realitas kehidupan rakyat.
Bukan tidak mungkin, para bakal calon sudah mulai godok dan mendiskusikan visi-misi dan program kerja untuk diperdebatkan, dan diwartakan saat kampanye, juga tentunya untuk membangun Kabupaten Mabar.
Satu hal pasti adalah pariwisata Mabar mendapat prioritas. Diskursus untuk menata pariwisata Mabar semakin menguak, sejak kunjungan Presiden Jokowi ke Labuan Bajo. Adalah sebuah keniscayan, pariwisata Mabar menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional.
Perkembangan dan penataan pariwisata yang sudah, sedang, dan akan berlangsung tentu menghadirkan impian besar bagi rakyat Mabar. Dan seperti disinggung sebelumnya, bukan tidak mungkin, pariwisata menjadi prioritas pembangunan Mabar ke depan. Dan adalah keniscayaan, para kandidiat sudah mempunyai konsep besar untuk menata dan memajukan pariwisata Mabar.
Angin prioritas pengembangan pariwisata Mabar dapat dilihat dari keputusan Gubenur NTT, Viktor Laiskodat yang berupaya merelokasi warga Pulau Komodo, demi kelestarian dan menjaga eksistensi binatang langkah, Komodo. Walaupun akhirnya, keputusan Laiskodat tidak direalisasikan, ini tetap menunjukkan over priority terhadap pariwisata.
Keputusan berani Gubernur dari partai Nasdem ini, serentak membangunkan kecemasan. Kecemasan bukan karena psimis dengan kemampuan para bakal calon untuk membangun pariwisata, tetapi konsekuensi dari prioritas berlebihan pada pembangunan pariwisata.
Mabar merupakan wilayah admistratif otonom yang menyimpan banyak potensi. Selain pariwisata, Mabar mengandung potensi pertanian dan kelautan.
Di sini, pembangunan pariwisata seyogiyanya tidak menganaktirikan potensi lain, seperti yang disebutkan itu. Bahwasannya, jika yang diprioritaskan hanya potensi pariwisata, maka bukan tidak mungkin beberapa potensi lain akan mati. Alih-alih mesejahteraan rakyat-para petani dan nelayan- pengembangan pariwisata malah menjadi momok bagi eksistensi daerah.
Prioritas pembangunan pariwisata setidaknya mesti sejalan dengan prioritas pengembangan pertanian, kelautan, dan lainnya. Artinya, para petani dan nelayan mesti diperhatikan dengan kebijakan yang memungkikan produktivitas.
Misalnya, para petani dibimbing untuk mengolah komoditas mereka, agar hasilnya dinikmati oleh para wisatawan. Atau buat kebijakan yang memungkinkan pengusaha pariwisata mengambil hasil pertanian atau kelautan rakyat Mabar untuk kebutuhan wisatawan. Dengan demikian, kebutuhan pokok, seperti sayur, beras, dan ikan tidak mesti impor dari luar. Di sini, pembangunan pariwisata Mabar tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga para petani dan nelayan.
Para bakal calon pemimpin Mabar yang terdaftar bukan tidak mungkin tahu perihal kecemsan penulis. Bahwa prioritas yang berlebihan pada pariwisata akan berdampak buruk bagi perkembangan potensi lain. Karena itu, diharapkan agar para bakal calon mesti memikirkan konsep pembangunan yang memungkinkan semua kekayaan daerah dieksploitasi demi kesejahtraan seluruh rakyat Mabar. Dalam artian, bahwa jika pariwisata diprioritaskan, maka potensi lain mesti diperhatikan untuk mendukung pembangunan pariwisata itu. Para petani dan nelayan diberikan ruang, fasilitas, dan perhatian yang ekstra, agar hasil kerja mereka dinikmati oleh para wisatawan.
Semoga kecemasan ini meenyusup dalam diskurusus konstruksi konsep, visi-misi para kandidat pemimpin Mabar kedepan. Dalam konteks ini juga, para bakal calon mesti mendengarkan aspirasi dari rakyat kecil, sebelum membuat visi-misi. Dengan demikian, visi-misi tidak jauh panggang dari api. Artinya, visi-misi itu benar-benar menjawabi aspirasi, kerinduan, dan persoalan rakyat. Visi-misi yang merakyat-menjawabi persoalan rakyat- dan tidak bombastis, akan berpotensi membawamu menuju pintu kemenangan.
Tulisan ini sudah ditayangka pada komodopos.com (23 September 2019)
Oleh Rudi Haryatno
Previous article
Next article


Leave Comments
Post a Comment