Ads Right Header

Puisi - Puisi Only Manu

Pixabay.com

Ruang pengakuan

Kukembalikan rupaku pada ruang kosong itu
Bertelut di antara debu- debu yang kutabur dari lumbung hati
Berserakan.
Kutumpahkan dengan licik dan buru- buru,
hingga kulupa sebutir debu menempel di langit- langit.
Sebelum pamit keluar, ibu bilang begini,
“anakku, rahim tidak pernah melahirkan kemunafikan”.
Dan baru kuingat
Aku telah menelannya lagi.

#####

Kata Pertama

Kali pertama ketika senja diajak mampir sebentar
Menemani waktu yang diseduhkan dalam cangkir sekaligus yang tersembunyi
Adalah permintaan yang paling mungkin dikabulkan.
Entah rahasia apa yang dipilih langit saat gerimis mengundang tanya
Sangka yang pasti?  Hangatnya terasa pada kegelisahan jemari.
Apalagi? Dinding bibir yang mulai gemetaran.
Dan
Lebih jujur? Kelihatan diam dalam dada.
Yang tak dapat dimungkinkan akhirnya adalah
kata yang saling menunggu.
Dan kita yang dipenuhi banyak prasangka.

##### 

Aku Pasti Bisa

Matahari bisa saja marah dan menertawai keinginanmu
dari hal-hal yang memuat tanda tanya hingga sebuah titik
yang belum juga kau temukan dalam barisan kata.
Mendengar pagi buta adalah satu-satunya berkas yang ingin kau simpan
bersama sisa malam yang baru saja meninggalkan matamu.

Perihal pemula barangkali coretan-coretan itu mengatai waktu
Yang hanya bisa tersenyum dan kembali melanjutkan detik
Sambil mengingat angka berapa yang harus kau ceritakan pada ibu dan bapamu kelak
ketika kata-kata yang berlarian mengisi masa kecilmu itu.
Jadi, kumpulkan rindu yang kau tanam pada mata tinta anak-anakmu saat ini.



Only Manu,
Tinggal di Seminari Petrus van Diepen, Aimas, Sorong - Papua Barat.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel