SosPol
Hikmah Kegaduhan di DKI Jakarta
Foto (nasional.tempo.co)
ARGUMENTASI - Beberapa bulan
terakhir, perhatian rakyat Indonesia tertuju ke Ibu Kota Negara, Provinsi DKI Jakarta.
Itu berawal dari isu kegendutan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun
2020 DKI Jakarta. Sebagaimana terwarta dalam beberapa media (online dan cetak)
bahwa, rancangan Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Paltfon Anggaran Sementara
(KUA-PPAS) untuk APBD 2020 DKI Jakarta pada awalnya sebesar Rp. 95 triliun,
kemudian terpotong menjadi Rp. 89 triliun.
Dari rancangan
anggaran hasil revisi itu, terevelasi isu paling seksi, yakni perihal anggaran
pengadaan Lem Aibon, Bulpen, dan beberapa yang lain yang masing-masing mencapai
ratusan juta hingga milirian rupiah. Isu APBD DKI menjadi semacam bola api liar
karena besar anggarannya yang irasional. Berhadapan dengan isu itu, rakyat atas
nama demokrasi mulai berargumentasi, mencurigai, dan mengkritsi serentak menghakimi
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Belum selesai dengan
semarak isu pembengkakkan anggaran APBD yang irasional itu, baru-baru ini
muncul aksi baru Pemprov DKI Jakarta, yakni penggusuran puluhan bangunan liar di
kawasan Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (13/11/2019). Aksi
penggusuran Pemprov DKI Jakarta ini mengundang berbagai respon, ada yang kecewa
dan ada juga yang melempar sinisme.
Ferdinand
Hutahaean, politikus Partai Demokrat misalnya, melalui akun Twitter @ferdinand_haean,
menulis, “indah sekali kalimat-kalimat
yang ditata rapi oleh @aniesbaswedan ini, sungguh mampu mengecoh hati rakyat
yang tak ingin lagi melihat penggusuran seperti yang era Ahok @basuki_btp
Ternyata
lbh manusiawi era Ahok, lahan digusur, warganya dimanusiakan diberi rusun”.
Selain itu, rakyat
korban penggusuran juga, sebagaimana terwarta dalam siaran Kompas Siang melalui
saluran youtube KOMPASTV, yang dipublikasi, Minggu (17/11/2019), mengaku kecewa
atas penggusuran ini, juga serentak bingung karena tak punya tempat tinggal
baru. Respon sinisme dan kekecewaan itu sangat
logis, sebab pada saat kampanye, Anies Baswedan yang berpasangan dengan
Sandiaga Uno waktu itu menegaskan untuk menghentikan aksi penggusuran,
sebagaimana yang dilakukan Ahok-Djarot pasangan calon lawannya semasa menjabat.
Saat
berkampanye, sebagaimana dipublikasikan dalam alamat youtube KOMPASTV yang sama,
sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pernah berujar, “ketika kita
berbicara tentang masyarakat, apalagi soal penggusuran. Lihat, ini bukan soal
pemukiman semata, tetapi ini adalah soal manusia. Di situ ada aspek sosial,
aspek kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Karenannya, yang kita lakukan
adalah yang modern. Yang kuno itu sekadar dipindahkan. Itu cara kuno. Cara
modern namanya, Urban Renewal (peremajaan
kota). Artinya ditata. Diperbaiki.”
Namun Anies
tidak konsisten dengan ucapannya saat kampanye itu. Alih-alih tidak menggusur,
toh dia menggusur juga. Jelas sekali di sini, Anies mengucapkan konsep Urban Renewal sebagai “mantra” untuk menarik
simpati rakyat pemilih. Ucapan itu tidak mengalir dari hati dan hasrat untuk
membangun dan menyejahterakan rakyat, tetapi lebih didorong oleh hasrat untuk
berkuasa. Inilah yang disebut penipuan rakyat. Menipu demi kekuasaan.
Tahulah bahwa,
permaianan kata ala Anies ini tidak mampu
mengatasi persoalan penyebaran kampung kumuh di jantung Indonesia itu. Konsep “peremajaan
kampung” dengan tidak menggusur semacam kata gombalan Anies kepada rakyat
pemilih. Sebab, setelah terpilih konsep
itu hanya sekadar menjadi konsep semata, tak mampu dikonkritkan di lapangan. Rakyat
sepertinya berhasil diberdayai dengan permainan kata dan konsep tanpa dasar
Anies Baswedan.
Penulis menilai
bahwa konsep “peremajaan kampung-Urban
Renewal” tanpa penggusuran yang digaungkan Anies Baswedan saat kampanye itu
merupakan sebuah konsep yang tidak dipikirkan secara matang dan konkrit.
Semisal, bagaimana cara mewujudkannya, atau bagaimana langkah praktis-konkritnya
dalam mewujudkan Urban Renewal itu.
Jika konsep
manis yang menarik hati rakyat pemilih itu dipikirkan secara matang dan
konkrit, maka niscaya praktik penggusuran yang dikutuknya saat kampanye tak ada
lagi pada masanya. Nah, Anies tetap memilih menggusur, rela mengangkangi
ikhtiarnya sendiri saat kampanye karena konsep Urban Renewal tanpa penggusuran itu tidak dipikirkan secara matang
dan konkrit. Akibatnya konsep itu tak dapat diwujudkan. Anies sepertinya hanya
menyiapkan kata-kata manis saat kampanye, tanpa memikirkan cara atau solusi
konkrit-praktis atas persoalan ibu kota itu, semisal penataan perumahan liar di
bantaran sungai dan banjir.
Kegaduhan di DKI
Jakarta beberapa bulan terakhir ini, bagi penulis serentak menjadi hikmah bagi
seluruh rakyat Indonesia. Bahwasannya, dari pergerakan kebijakan Pemprov DKI
Jakarta, rakyat dengan mudah membaca, bahwa ada praktek penipuan yang dipentaskan
Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta itu.
Sebab, jelas ada kontradiksi antara janji Anies Baswedan saat kampanye
dengan praktek dan kebijakannya saat menjabat sekarang. Janjinya manis, tetapi
praktiknya pahit, menyakitkan, dan mengecewakan, terkhusus bagi rakyat di
kawasan Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Jadi, fakta di
DKI Jakarta ini seyogianya menjadi pembelajaran bagi seluruh rakyat di Negera
demokratis ini. Terkhusus menjelang Pilkada serentak di beberapa daerah pada
tahun 2020, para kandidat dan rakyat mesti sama-sama memetik nilai positif dan
hikmah dari kegaduhan di Ibu Kota Negara itu.
Bahwasannya,
para kandidat mesti siapkan visi-misi dan program yang jelas dan realistis jika
ingin memimpin rakyat banyak. Bukan program yang indah secara retoris, tetapi lemah
secara konkrit. Ini bermaksud agar tidak seperti Anies yang termakan dan
dihantam oleh kata-kata dan konsepnya sendiri.
Demikan juga
rakyat mesti siapkan pikiran kritis untuk menyaring berbagai propaganda dan
program yang ditawarkan oleh para Kandidat. Jika kurang realistis dan tidak
mungkin dapat diwujudkan atau belum menjelaskan cara praktis dalam megeksekusi
programnya, mesti kandidat yang demikian ditepi dari daftar pilihan anda.*
Oleh Rudi Haryatno
Previous article
Next article
This Is The Oldest Page


Leave Comments
Post a Comment